Sunday, August 31, 2008

Irman Bezoek Ketua LKAAM

Senin, 04 Agustus 2008
Sample ImagePadang, Padek– Dalam kesempatan kunjungannya ke Sumbar, Wakil Ketua DPD RI Irman Gusman menyempatkan diri mengunjungi Ketua Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM) Sumbar Kamardi Rais Dt P Simulie, Sabtu (2/8).

Kedatangan Irman ke kediaman Kamardi di Batang Kabung, Kecamatan Koto Tangah, untuk melihat langsung perkembangan kesehatan Kamardi yang beberapa waktu lalu menderita menderita sakit gula (diabetes), prostat dan stroke ringan. Sekarang kondisinya sudah membaik. Irman datang bersama rombongan, termasuk Rektor Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat (UMSB) Shofwan Karim.

Kunjungan ke rumah tokoh pers Sumbar ini membuat surprise Kamardi Rais. Pasalnya, ia baru saja kembali dari kampung halamannya, saat kondisinya baru sehat. Selama kunjungan itu, Kamardi Rais ikut larut dalam gurauannya bersama Irman dan Shofwan Karim.

“Saya tidak menyangka mamak Datuk kondisinya sesehat ini. Sebab, terakhir membesuk beliau, kondisinya cukup parah. Namun saat ini sangat cerah dan sehat. Ia bisa bergurau dengan kami,” kata Irman yang datang ke rumah Kamardi Rais usai memberikan ceramah seminar di kampus UNP.Sample Image

Kendati pertemuan itu berlangsung singkat, tetapi sangat berarti bagi Irman. Selama ini Irman selalu memantau bagaimana perkembangan Kamardi Rais. “Masyarakat Sumbar mesti memberikan doa agar kondisi beliau selalu fit,” harap senator asal Sumbar ini.

Irman Gusman (kiri) didampingi Shofwan Karim (kanan) mengunjungi Kamardi Rais (tengah), Sabtu (2/8).

Ketika ditanya rombongan, Kamardi mengaku merasakan perubahan kondisinya itu setelah menjalani pengobatan alternatif di kawasan Kota Solok sejak beberapa bulan lalu. Setiap minggu, Datuk memeriksakan kondisinya sebanyak tiga kali. Ternyata doa dan harapan Kamardi Rais bersama warga Sumbar lainnya membuahkan hasil.

“Memang sakit, sehat, hidup, mati, rezeki berada di tangan tuhan. Namun, sebagai umat manusia kita mesti berusaha melakukan yang terbaik. Sebab, yang mengubah kondisi kita ini hanya diri sendiri, di samping dikabulkan Yang Kuasa. Saya berterima kasih kepada warga Kota Padang dan sekitarnya yang ikut mendoakan saya ,” ungkap Kamardi Rais. (mg7)

Hikmah Ramadhan.1429.Kesalehan Sosial

Kesalehan Sosial

Oleh Shofwan Karim

Di ujung tubir senja akhir Sya’ban, maka berniatlah kaum beriman untuk berpuasa sebulan Ramadhan. Tak lain, nereka mendambakan diri menjadi kaum muttaqin (QS, 2: 183). Para muttaqin berharap dapat menghimpun dua kesalehan: nafsi dan jama’i. Yang pertama kesalehan individu atau kata KH Mustofa Bisri kesalehan ritual, ibadah dalam rangka habl min Allah; dan kedua kesalehan sosial, habl min al-nas. Keduanya, seyogyanya tawazzun, berimbang dan syumuli, menyeluruh dan terpadu. Shaum dan qiyam al-Ramadhan menghimpun semua daya melatih badan dan jiwa. Antara konsep fikih dan tasawuf, ibadah syariat, hakikat dan makrifat.

Para fuqaha pada tahap tertentu membatasi definisi awam tentang puasa sebagai menahan dalam makna fisik. Tetapi kaum sufi, hakiki dan bathini, lebih menekankan tawazzun, keseimbangan antara puasa badan dan jiwa. Karena itu Imam Al-Ghazali menyebut puasa kaum khawash al-khawash adalah level tertinggi, sehingga puasa adalah upaya paling prima untuk membersihkan pikiran, perasaan, hati, jiwa atau dhamir.

Tentu saja apa yang dinisbatkan kepada pemahaman kaum fuqaha dan shufi itu tadi, sesuatu yang niscaya dan afirmatif . Saleh secara individual paling tidak berkelanjutan dan khusyuk dalam ibadah, taat dalam menjalankan perintah Allah dan berhenti dari segala yang dilarang-Nya; memelihara diri dari segala yang tercela, bersungguh-sungguh dalam kebaikan, dan rendah hati atau wara’; sambil berusaha untuk menambah rezeki tetap merasa cukup dengan nikmat yang telah dianugrahkan Allah atau qanaah; berani atau syaja’ah dalam menghadapi kesulitan, rintangan dan resiko kehidupan.

Pada dimensi lain, dan ini yang amat alit dan rumit adalah menjadikan puasa dan qiyamu Ramadhan sebagai ujud nyata kesalehan sosial. Di antaranya menumbuhkan dan memelihara sikap dan perilaku yang positif di tengah publik. Misalnya rafiq (santun), tasammuh (toleransi, lapang dada), mau berbagi dan sikap kedermawanan serta ikhlas dalam beramal. Puasa merupakan pemaksaan rasa miskin kepada semua kaum beriman, sebagai repleksi untuk diproyeksikan kepada orang dan kelompok sosial lain yang tidak berpunya. Betapa yang miskin itu merasa lapar, haus, dahaga, letih dan lelah, tetapi tidak merampok, tidak maling dan tidak korup.

Semakinlah kita menjadi miris, bila suatu komunitas tidak punya kohesi sosial yang padu hanya gara-gara ketimpangan ekonomi. Karena itu sikap taawwun, tolong menolong dan bantu membantu dalam kebaikan termasuk rezeki yang halal, politik yang berbudaya dan etis, harmoni sosial, rukun dalam kekeluargaan, semuanya merupakan pencerminan kesalehan sosial. Semakin banyak kaum berpunya berpihak atau pro-dhuafa, fakir dan miskin, seyogyanya semakin kokoh kehesi sosial itu.

Dari dimensi lain, kesalehan sosial, sebenarnya secara built-in (terbangun dari dalam) sikap keberagamaan atau religiusitas itu sendiri. Menghormati dalil yang dipegang oleh kelompok komunitas tertentu dalam beribadah dan beramal sesuai ilmu dan keyakinan yang berdasarkan dalil yang kuat (rajih), agaknya termasuk di dalam bingkai kesalehan sosial. Setelah wafatnya Rasulullah saw, dan selesainya priodesasi kekhalifahan khulafaurrasyidin, telah terjadi perbedaan penafsiran, pemahaman dan pelaksanaan beberapa konsep dan bentuk ibadah mahdhah dan muamalah atau ibadah sosial. Bahkan di dalam konteks fikih dan syariat secara umum serta akidah ushuliyyin pun sudah dimaklumi adanya beberapa mazhab. Menghormati pendapat-pendapt yang majemuk demikian pun agaknya tidak lepas dari bingkai kesalehan sosial. Oleh karena itu, perbedaan dimulainya awal Ramadhan, awal Syawal dan Zulhijjah untuk menentukan awal puasa, Idul Fitri dan Idul Adhha, merupakan dimensi lain dari kesalehan sosial. Justeru bila hal itu masih dipersoalkan oleh kalangan tertentu, substansinya dalam kesalehan sosial menjadi tidak relevan lagi. Yang pokok, rujukan pendapat dan praktik produk itu semuanya, haruslah al-Quran , sunnah shahihah dan ilmu pengetahuan yang syah. Penghormatan yang proporsional atas perbedaan-perbedaan itu, menambah makna kaitan puasa sebagai ibadah ritual yang individual, sekaligus repleksi ibadah untuk kesalehan sosial. Allah A’lam bi al-Shawab.*** Printed matter, Published on Padang Eskpres, August 31, 2008

Friday, August 1, 2008

AS Maarif Receives R Magsaysay Award 2008

The 2008 Ramon Magsaysay Award for Peace and International Understanding

CITATION for AHMAD SYAFII MAARIF

Ramon Magsaysay Award Presentation Ceremonies
31 August 2008, Manila, Philippines


In Islam, authority rests in knowledge. In times of crisis and for guidance in day-to-day life, Muslims turn to scholars. It is their role to apply the truth of the Holy Quran and the lessons of the Prophet Muhammad to human life in matters large and small. Yet, Islam's religious scholars-who these days may be teachers or preachers or public intellectuals, and are often all three-do not always see eye-to-eye. Their debates over the centuries have produced the heterogeneous world of Islam today, with its various sects and schools of law. In such debates, the authority of individual thinkers weighs heavily. And in countries like Indonesia, with vast Muslim majorities, intellectuals such as Ahmad Syafii Maarif can influence millions and shape the character of national life.

Syafii Maarif was born in West Sumatra in 1935. Through his family and early schooling, he was exposed to the teachings of reform Islam as espoused by Muhammadiyah, one of two mass organizations that dominate Muslim life in Indonesia. After university, he shifted naturally into teaching and later earned his doctorate in Islamic thought at the University of Chicago under the eminent scholar of Islam, Fazlur Rahman. By the 1980s he was an intellectual of serious reputation and a rising leader in Muhammadiyah.

The Indonesian nationalists who declared their country independent in 1945 created a secular state. They chose not to enshrine the shari'a, Islamic law, as the law of the land for Muslims. Instead, befitting Indonesia's extraordinary diversity, the new nation's creed became Panca Sila, whose ecumenical five principles began with "belief in one God" and otherwise spoke to the ideals of a just and civilized humanity, national unity, democracy, and social justice. This decision became a matter of bitter dispute among Indonesian Muslims that lingered under the thirty-year-long dictatorship of Suharto. His downfall in 1998 brought a new era of openness, reform, and democratizaton to Indonesia but also tumultuous sectarian conflict. It was at exactly this time that Syafii Maarif assumed leadership of Muhammadiyah and its thirty million members and sympathizers.

Syafii Maarif embraced his country's fresh hopes for democracy and good governance and, in the stormy seas ahead, became a force for calm and moderation. When violence erupted between Indonesian Muslims and Christians, he reminded Muslims that Islam teaches the equality of all people; he took the lead in interfaith dialogues and warned against provocateurs who fanned fear and hate. When activists revived the call for an Islamic state and pressed urgently for implementation of the shari'a, he opposed them; the nonsectarian principles of Panca Sila, he said, were the right ones for Indonesia's plural society. And when the impact of 9/11 and the American invasions of Afghanistan and Iraq reached Indonesia, and when terrorism struck home in Bali and Jakarta, he stressed that "Terrorism is not the authentic face of Islam." In concert with other moderate leaders, he denounced it as a "crime against humanity." He said much the same about the new American wars but urged Indonesian Muslims to reject spurious calls to Holy War, and to make their protests peacefully. He did so himself.

As Muhammadiyah's president, Syafii Maarif spurned the trappings of power and resisted the call to politics. Today, at 73 and retired, he relishes his role as an independent thinker and mentor to the young. We must learn to look beyond our individual nations, he says, and see the world from a global perspective-"from a human perspective and from a justice perspective." Indeed, justice is the key to "global wisdom." Without it, he says, "I think the world will go astray forever."

In electing Ahmad Syafii Maarif to receive the 2008 Ramon Magsaysay Award for Peace and International Understanding, the board of trustees recognizes his guiding Muslims to embrace tolerance and pluralism as the basis for justice and harmony in Indonesia and in the world at large.

http://www.rmaf.org.ph/


Blog Archive

About Me

My Photo
Shofwan Karim
The Time For Innovation: Ilmu amaliah, amal ilmiyah
View my complete profile