| Jumat, 27 Juni 2008 http://www.padangekspres.co.id/content/view/10631/55/ | |
| Manusia memerlukan rasa damai, jauh dari konflik dan kekerasan. Ketika hidup dalam kelompok atau ketika kelompoknya bersinggungan dengan kelompok lain, kerawanan mulai terjadi. Bahkan, tidak sekadar itu. Ketika seseorang berhubungan dengan yang lain meskipun dalam keluarga sendiri, suku sendiri, agama sendiri, konflik bisa muncul tiba-tiba. Konflik bisa muncul secara eksternal maupun internal. Namun konflik biasanya tidak datang tiba-tiba. Konflik mempunyai akar atau urat tunggang. Upaya menata resolusi konflik pada ribuan spot di planet bumi saat ini, secara ideal hendaknya simultan dilakukan dengan penanaman benih kedamaian. Perasaan damai dan tenteram diperlukan ketika ada kehidupan sosial yang berlatar belakang keanekaragaman sosial budaya, agama, suku, politik, ekonomi, pendidikan, ras, warna kulit, asal dan keturunan. Konflik yang tidak terkendali pada tahapnya akan menjelma menjadi kekerasan. Lebih luas dari itu, konflik dapat menjelma menjadi trans-nasional-konflik atau konflik antarnegara. Konflik terakhir ini yang tidak ada resolusinya dan bisa menjelma menjadi peperangan. Itulah yang terjadi di berbagai belahan dunia. Muhammadiyah bekerja sama dengan Cheng Ho Multi Trust dan Centre for Dialogue and Cooperation Among Civilisation (CDCC), 24-26 Juni, menyelenggarakan The 2nd World Peace Forum (WPF). Untuk melanjutkan upaya memelihara perdamaian dan mencari akar serta resolusi konflik untuk menghindari kekerasan. WPF itu sendiri mengambil landasan filosofis: satu kemanusiaan, satu nasib dan satu tanggungjawab. Antara damai dan kekerasaan, seperti dua tebing curam berjarak ruang hampa amat dalam. Tebing yang satu adalah damai, ia memiliki anatomi, biologi dan budayanya sendiri. Begitu pula konflik dan kekerasan, ia memiliki anatomi, biologi dan budayanya sendiri. Mencari resolusi konflik untuk mengatasi kekerasaan dengan berbagai upaya sehingga tercipta jembatan perdamaian, tampaknya telah mendorong tokoh-tokoh dunia yang pro-damai berfikir dan bekerja keras. Beberapa pandangan terhadap bentuk konflik telah dikaji baik yang bersifat lokal maupun global. Konflik lokal dalam suatu negara dapat berbentuk kerusuhan horizontal dan vertikal. Konflik horizontal berujung kerusuhan sesama warga masyarakat. Ini dapat berpangkal karena prasangka psikologis, etnis, sosial, budaya, salah faham dan salah praktik tentang agama. Konflik vertikal, lazimnya berakar dari perebutan pengaruh politik, kebijakan yang salah dibidang ekonomi, dan penegakan hukum yang lemah. Lain halnya dengan konflik global antarnegara, kawasan, dan lintas-kontinen. Bila tidak ada resolusi yang tepat, akan menimbulkan invasi, peperangan dan pendudukan. Konflik trans-nasional atau global, oleh P. Huntington ditengarai berakar dari konflik antarperadaban. Oleh peserta WPF ini ditolak. Yang benar adalah akibat pengaruh dan syahwat kekuasaan untuk menjadi polisi dunia dengan cara merebut sumber daya alam dan kandungan bumi. Artinya lebih kepada karena kepentingan enerji dan ekonomi. Kenapa Presiden George W Bush memerintahkan bala tentaranya menginvasi Afghanistan dan Irak? Pihak Bush beralasan di antaranya untuk mengejar dan menghajar negara yang membantu dan melindungi Osama Bin Laden, sang teroris yang berada di belakang serangan ke WTC 11/9/2001. Padahal semua analis secara terang-terangan menyebutkan, motivasi Bush adalah untuk merebut sumber daya alam dalam hal ini minyak bumi di kedua negara itu. Pada kasus lain ada juga konflik antarnegara yang dianggap bukan karena perebutan sumber daya, misalnya Israel dan Palestina. Ini konflik dan kekerasan serta perang yang murni karena mempertahankan atau sekaligus memperebutkan eksistensi kehidupan mereka sebagai bangsa. Meskipun secara faktual hanya persoalan antara dua bangsa, Israel dan Palestina, konflik ini telah melibatkan dunia global. Negara-negara besar lainnya telah terseret dan menyeretkan diri ke kancah perang antarkedua bangsa itu. Negara-negara Arab dan beberapa negara berpenduduk mayoritas Islam lainnya berpihak kepada Palestina dan negara-negara Barat terutama Amerika dan Inggris serta beberapa sekutunya berpihak ke Israel. Maka ada analisis yang mengemuka, Irak diserang, bukan hanya karena dianggap faktor Saddam, atau Iran diobok-obok bukan semata-mata karena soal reaktor Nuklir, tetapi juga untuk melindungai Israel dari ancaman kekuatan Irak waktu –dulu— dan Iran —dulu dan sekarang— sebagai dua “singa” di Timur Tengah yang ditakuti. Terhadap kedua bentuk konflik lokal dan global di atas tadi, tampaknya faktor agama tidak bisa disebut sebagai faktor pemicu “in-toto”. Mungkin pada kasus-kasus tertentu, agama hanya sebagai imbasan atau “in-partio” saja. Misalnya minoritas Islam di Filipina, atau konflik pemeluk Hindu-Budha di Srilangka dan untuk beberapa kasus lain di beberapa belahan dunia. Untuk itu, pertanyaan lain muncul, apakah sebenarnya urat tunggang atau akar utama konflik, kekerasan dan peperangan itu?. Jawaban datangnya seragam: yaitu injustice (ketidakadilan) dan ideology of fundamentalism and radicalism (ideologi paham fundamentalisme dan radikalisme). Deretan ketidakadilan politik dan hak-hak warga, kelompok masyarakat, ketidakadilan pendapatan dan ekonomi, ketimpangan dan ketidakadilan pemahaman dan tuduhan yang salah. Sekadar contoh kecil, mengapa konflik Iran dan Barat terjadi? Bagi Iran, nuklir untuk energi dan maksud damai. Adalah hak mereka juga sama dengan hak Barat yang sampai sekarang mengklaim memiliki reaktor nuklir untuk keperluan damai. Selain itu, ideologi kaum fundamentalis-radikal, seperti dikutip seorang peserta WPF, contohnya adalah Bush dan Osama. Yang satu fundamentalis-radikal Nasrani dan yang satu lagi fundamentalis-radikal Islam. Mereka menganggap lawan-lawannya harus mengikuti kemauannya, bila tidak harus dilawan bahkan dimusnahkan. Padahal mayoritas tokoh dan pemeluk agama-agama di dunia berpaham moderat atau paling tidak sebagian kecil ada yang fundamentalis-moderat. Artinya, berpegang teguh terhadap ajaran agamanya, tetapi tidak ingin memaksakan pemikiran, kehendak, dan pandangan normatifnya kepada pihak lain. Disitulah relevansinya dengan inti pokok doktrin Islam tentang perdamaian. Bagi mayoritas kaum muslimin perdamaian dan penegakkan keadilan adalah satu nafas. Kata Islam yang berakar dari kata “aslama”, semantik maupun terminologis mengacu sepenuhnya kepada rasa aman, sejahtera, sentosa, tenteram dan damai. Oleh karena itu firman Allah yang menggesa kita untuk bertaqwa dan mati dalam keadaan berislam dan masuklah kita semua kepada Islam secara total dan sempurna, dapat dipahami dalam pemahaman yang lahiriah-syariah, maupun yang dipahamai secara teologis, aqidah dan filosofis. Allah a’lam bi al-sawab. *** |
Saturday, June 28, 2008
Agama untuk Perdamaian
Bustanuddin Agus. SDM
| Selasa, 24 Juni 2008 | |
| Oleh : Bustanuddin Agus, Dosen FISIP Unand Sadar sulit akan menang kalau ikut berpacu dengan daerah, apalagi negara lain, dalam bidang industri dan agroindustri, Sumbar optimis bisa menyamai, kalau tidak akan mengalahkan, daerah dan negara lain kalau menggarap industri otak sebagai produk unggulan. Produk yang akan dijual di pasar bebas nasional atau internasional memang harus unggul sehingga orang berminat membeli. Suatu kemungkinan yang “menjanjikan”, seperti diungkap oleh Prof. Emil Salim sejak seperempat abad yang lalu dan oleh Gubernur Sumbar dalam berbagai kesempatan (seperti dalam pertemuan dengan para rektor Jum’at lalu). Karena itu akan digalang dana untuk memberi beasiswa kepada mahasiswa kurang mampu. Jangan hanya bernostalgia pada masa lalu tokoh-tokoh nasional banyak dari Minang (walaupun andil Minang atau Sumbar untuk membesarkan mereka boleh dikatakan tidak ada). Sudah tidak jamannya sekarang bermentalitas “mengepit daun kunyit”, apologetik atau labeling itu. Perlu langkah kongret menuju ke sana. Saya menggaris bawahi dan setuju sekali langkah-langkah konkret itu. Tanpa langkah konkret, angan-angan, mimpi, visi atau pun misi tidak akan pernah kenyataan. Sebelum menimbang industri otak atau ada lagi yang lebih mungkin untuk unggul, terlebih dahulu saya (demikian juga tentunya kalangan pendidik dan perguruan tinggi) menyambut hangat gagasan Gubernur tersebut dan mengucapkan terima kasih. Semoga anak-anak Minang/Sumbar banyak yang betul-betul berhasil dalam menyelesaikan pendidikannya, baik S1, S2, dan S3, baik dalam dan luar negeri (tidak hanya sekedar mengepit ijazah, tapi berandil dengan tindakan konkret). Sehingga memang ada andil masyarakat di bawah kepemimpinan Pak Gamawan Fauzi yang pantas dicatat sejarah untuk menuju ke sana, seperti Khalifah Al-Makmun, al-Manshur dan al-Rasyid memobilisir potensi nasional untuk menerjemahkan kita-kitab Yunani, India dan Persia ke Bahasa Arab pada abad ke-8 dan ke-9 M. Bukan pesimis untuk unggul dalam industri otak, saya mempertanyakan gagasan ini karena melihat ada yang lebih berpeluang lagi bagi Sumbar untuk bersaing di pasar bebas ini. Kalau untuk mengisi dan memberdayakan otak saja, kita tampaknya juga akan tetap keteteran dengan negara-negara yang telah maju. Selain perpustakaan dan teknologi informasi yang mereka miliki jauh lebih canggih dari yang kita miliki, kebebasan berpikir yang mereka miliki super hebat: dapat saja menabrak nilai-nilai luhur, adat istiadat, dan bahkan ajaran dan umat beragama. Keunggulan mereka dalam mengembangkan otak dan otot (fisik, raga, jasmani, peralatan, sarana dan prasarana) memenang diakui dan rasanya sulit (kalau tidak mustahil) disalip. Jangankan menyalip negara lain, mengejar dan menyamai negara tetangga, seperti Singapura, Malaysia dan Thailand saja, kita sudah keteteran. Maksud hendak menyamai, yang didapat malah ketertinggalan yang makin jauh. Maka yang kita ”dagangkan” jangan lagi yang sama dengan mereka. Mesti ada nilai plusnya. Otak saja hanya salah satu dari sumber daya yang dimiliki manusia. Walaupun potensinya besar dan penting, tapi ia agaknya tak lebih dari alat atau kendaraan yang akan digunakan oleh manusia pemiliknya. The man behind the gun yang menentukan. Otak memang mampu mengubah biji besi jadi mobil mewah, kapal induk, dan lainnya. Otak mampu mengubah otom jadi sumber energi yang dahsyat. Otak mampu menayangkan peristiwa yang terjadi di ujung dunia selang beberapa detik di kamar atau di rumah kita. Otak mampu mendam laut sehingga menjadi kawasan wisata yang menarik, seperti Padang Bay Siti Nurbaya. Dengan alat-alat yang diciptakan oleh otak itu manusia (penguasa) bisa berbuat baik untuk umat manusia dan dapat pula menghancurkan umat manusia. Energi atom yang ditemukan oleh otak Einstein dapat digunakan untuk membom suatu negeri seperti yang dipertontonkan Amerika di Hirosima dan Nagasaki. Tapi tenaga atom juga dapat digunakan untuk pembangkit tenaga listrik sehingga dapat menerangi jutaan manusia dan mengaktifkan berbagai alat elektronik. Tetapi harus dicatat bahwa yang menghasilkan semua “keajaiban” teknologi modern itu bukanlah hanya otak. Kemauan, tekad, kerja keras, cinta dan kepekaan rasa, organisasi yang solid, semuanya ikut berandil. Potensi-potensi lain dari akal itu bisa saja dikatakan juga dihasilkan oleh otak. Tapi itu hanya dakwaan penganut paham rasionalisme. Kita harus rasional, tapi jangan menjadi penganut rasionalisme. Jadi industri otak yang akan ditabuh jangan tergelincir menjadi rasionalisme di mana akal yang dijadikan panglima dalam hidup ini. Akal menentukan segalanya: buruk baik, benar salah, wajar tidak wajar, ada tidak ada. Dalam rasionalisme akal dijadikan sumbu roda kehidupan pribadi dan masyarakat. Nilai-nilai luhur dari hati nurani, budaya dan agama sekalipun bersiap-siap saja untuk tersingkir karena kita menjadikan otak sebagai sumbu dan panglima dalam kehidupan, alias akal yang maha menentukan. Supaya jangan tergelincir menjadi rasionalisme, saya mengusulkan tidak industri otak tapi industri sumber daya manusia (SDM). Nilai budaya, agama, dan pemikiran rasional yang kita miliki yang disimbolkan dengan tungku tigo sajarangan, syara’ mangato, adat mamakai, alam takmbang jadi guru ada yang akan kita olah bersama sehingga dapat dijadikan “komoditi unggulan” yang menarik untuk dipasarkan. (***) |
Yayasan Pendidikan Sumbar
| Sabtu, 14 Juni 2008 | |
| Padang, Padek-- Pemprov Sumbar segera membentuk yayasan untuk penyedia dana. Sedianya dana tersebut akan dikumpulkan dari sumbangan pihak ketiga seperti Community Social Development (CSR) perusahaan-perusahaan besar yang ada di Sumbar. Saat ini sudah diterima dari PT Rajawali sebesar Rp28 miliar sejak tahun 2006 lalu. Ditargetkan, dana tersebut akan diperoleh sampai 2009 dengan total dana mencapai Rp45 miliar. “Sekarang dana yang sudah ada di kas daerah Bank Nagari Rp28 miliar. Kita targetkan dana tersebut menjadi Rp45 miliar. Dana Rp 45 miliar ini nanti akan abadi tidak akan berkurang. Kita usahakan dana tersebut terus bertambah untuk diberikan beasiswa bagi pelajar dan mahasiswa miskin asal daerah itu untuk melanjutkan ke perguruan tinggi atau diberikan pinjaman terhadap mahasiswa yang berprestasi berbakat dari ekonomi lemah,” kata Gubernur Sumbar, Gamawan Fauzi, ketika melakukan pertemuan dengan rektor perguruan tinggi se-Sumbar, Gubernuran kemarin. Hadir dalam kesempatan tersebut, Wakil Gubernur Sumbar Marlis Rahman, Asisten II Setprov Sumbar, Kepala Biro Sospora Kafrawi dan sejumlah rektor perguruan tinggi seperti Pembantu Rektor Unand II Werry Dharta Taifur, Rektor Universitas Muhammadiyah Shofwan Karim, Rektor UBH Yunanzar Manjang, Rektor Tamsis Nanda Oetama, Rektor IAIN Imam Bonjol Sirajuddin Zar dan lainnya. Gubernur mengkhususkan bantuannya ini kepada S-1, S-2, S-3 berprestasi yang kurang mampu melanjutkan pendidikan. Sedangkan untuk jenjang pendidikan dari SD sampai SMA sudah ada bantuan operasional sekolah (BOS). Dana tersebut katanya, sepenuhnya akan dialokasikan bagi mahasiswa tidak mampu asal Sumbar untuk melanjutkan pendidikannya dan diharapkan mereka dapat berhasil dan mengabdikan diri untuk daerahnya. Menurut Gubernur, provinsi lain belum ada yang membentuk yayasan pendidikan ini dengan mengalokasikan pengelolaannya secara profesional berbentuk yayasan. Sejumlah nama tentatif yayasan diusulkan di antaranya, Yayasan Pendidikan Sumatera Barat, Yayasan Pengembangan Sumber Daya Manusia, Yayasan Minangkabau Institute, dan Yayasan Pendidikan Minangkabau Study Fund. Nantinya, soal nama akan disepakati bersama. “Nantinya kita kaji lebih lanjut soal penggunaan dana tersebut. Apakah memang perlu persetujuan DPRD atau cukup hanya memberitahukan saja ke DPRD. Kita harap semua pihak mendukung terbentuknya yayasan pendidikan ini. Ini semua bagian upaya meningkatkan sumber daya manusia Sumbar dan mewujudkan industri otak di daerah ini,” lanjutnya. Selain memberikan beasiswa, bantuan/pinjaman biaya pendidikan, yayasan ini juga akan melakukan pengelolaan dana dan memupuk dana abadi, serta mengembangkan semangat kesetiakawanan sosial melalui orangtua asuh. Program yang ada di yayasan ini nantinya akan memberikan beasiswa murni dimana lulusan atau tamanatn berprestasi, berbakat dan lemah untuk masuk perguruan tinggi dengan akreditasi A. Lalu, memberikan beasiswa kompetisi untuk sarjana S-1 terbaik dalam melanjutkan ke pascasarjana baik dalam dan luar negeri kemudian beasiswa bapak angkat. Di mana channeling yayasan kepada individu atau lembaga yang bersedia menjadi donatur (bapak angkat) yang diberikan berupa paket. Umumnya rektor yang hadir dalam pertemuan tersebut, menyatakan setuju dengan usulan gubernur. Namun, sejumlah rektor perguruan tinggi swasta meminta agar beasiswa tersebut tidak pilih-pilih. (afi) |
Bahasa Inggris
| Sabtu, 14 Juni 2008 | |
| Padang, Padek-- Kemampuan bahasa Inggris di berbagai jenjang pendidikan di Sumbar dinilai masih rendah. Ke depan perlu adanya komitmen dari perguruan tinggi atau di jenjang pendidikan mulai dari SD sampai SMA untuk memasyarakatkan bahasa Inggris. Jika diperlukan, Gubernur Sumbar Gamawan Fauzi akan membuat peraturan gubernur atau surat keputusan untuk pendidikan bahasa Inggris ini. Di Unand kemampuan berbahasa Inggris mahasiswa (Unand) masih rendah. Dari ribuan mahasiswa baru Unand, hanya 27 persen yang memiliki TOEFL di atas 400. Sedang, untuk semua lulusan hanya 7 persen saja yang punya TOEFL di atas dari 400. ”Kalau di tingkat perguruan tinggi perlu ada standar atau aturan yang jelas kalau siswa yang akan lulus perguruan tinggi tersebut harus memiliki TOEFL lebih dari 450. Sedangkan untuk tingkat SD sampai SMA perlu ditingkatkan latihan berbahasa Inggris. Kalau perlu PNS yang akan diterima nantinya di lingkungan Pemprov Sumbar harus memiliki TOEFL di atas 450,” kata Gubernur Sumbar, Gamawan Fauzi saat pertemuan dengan semua rektor perguruan tinggi negeri dan swasta se-Sumbar, di Gubernuran, kemarin. Pada kesempatan tersebut gubernur usulan untuk menentukan standar bahasa Inggris mahasiswa sebelum diluluskan dari perguruan tinggi, minimal 450. Gamawan mencontohkan di negara Malaysia sudah sejak lama menjadikan bahasa Inggris sebagai bahasa kedua. Sementara Indonesia belum melakukannya. Namun Gamawan yakin, dalam waktu tidak lama lagi pemerintah pusat akan mencanangkan itu. ”Kalau nasional belum, bagaimana kalau Sumbar mendahuluinya. Bahasa Inggris harus dijadikan bahasa ke dua di Sumbar. Untuk itu, sejak siswa di sekolah dasar harus ditumbuhkan suasanan berbahasa Inggris. Agar mereka tidak canggung saat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Sejak awal harus dibangun suasana berbahasa Inggris ini. Kalau perlu dengan keputusan gubernur atau peraturan gubernur, akan kita keluarkan,” kata Gamawan. Untuk itu, kata Gubernur perlu ada komitmen dari masing-masing perguruan tinggi agar sepakat dengan menerapkan hal ini. Karena hal ini juga dibawa ke DPRD kalau memang diperlukan Perda. Namun jika memungkinkan, maka Gubernur akan mengeluarkan surat keputusan atau peraturan gubernur. Sementara itu, Pembantu Rektor II Unand, Werry Dharta Taifur mengungkapkan jika menerapkan sistem TOEFL akan sedikit siswa yang akan diluluskan. Menurutnya, kebijakan TOEFL di atas 450 sudah lama dilakukan Unand. Namun nyatanya di lapangan belum mengembirakan. Hanya 27 persen mahasiswa baru yang memiliki nilai TOEFL besar dari 400. Dan hanya 7 persen lulusan yang punya TOEFL di atas 400. ”Ini karena memang kemampuan bahasa Inggris calon mahasiswa yang masuk ke perguruan tinggi juga rendah,” kata Werry. Maka itu, lanjutnya, untuk menumbuhkan budaya berbahasa Inggris di lingkungan mahasiswa di Sumbar, perlu ada kebijakan yang sama untuk sekolah penyangga, yaitu SMA dan jenjang pendidikan terdahulu. Rektor Universitas Bung Hatta (UBH) Prof Dr Yunazar Manjang, yang hadir dalam acara itu, sangat menyambut baik usulan gubernur. Walau sebenarnya, banyak universitas di Sumbar yang menerapkan TOEFL minimum 450, namun kendala di lapangan masih ada. Sementara itu, Rektor Universitas Muhammadiyah Sumbar (UMSB) Shofwan Karim, meski setuju menjadikan bahasa Inggris sebagai bahasa kedua di Sumbar, namun dia meminta jangan juga dilupakan bahasa Arab dan Mandarin. Wakil Gubernur Sumbar menambahkan, perguruan tinggi bisa menerapkan sistem TOEFL ini sebelum siswa tersebut diterima. Sehingga, nanti tidak ada komplain dari mahasiswa tidak bisa lulus karena memiliki TOEFL di atas 450. (afi) |
Miko Kamal.Industri Orang Baik
| Rabu, 25 Juni 2008 | |
| Dua hari berturut-turut (Rabu-Kamis/18-19 Juni 2008) cendikiawan Sumatera Barat Shofwan Karim (“SK”) menulis dua artikel di harian ini dengan judul ”Menyambut Gagasan Gubernur GF”. Dua tulisan itu merupakan dukungan penuh SK terhadap keinginan kuat Gubernur Gamawan Fauzi (SK menyingkatnya dengan “Gub GF”) mempercepat terealisirnya pembangunan ”industri otak” di Sumatera Barat. Seperti yang dikatakan SK, Gub GF mengajak para rektor untuk merenungkan diskursus ”industri otak” yang sudah disuarakan oleh Emil Salim sekitar 25 tahun yang lalu. Sekarang, Gub GF sudah tak sabar lagi menunggu konsep kongkrit, terutama dari para rektor, tentang “industri otak” itu. Saya kira kita semua, secara prinsip, bersetuju dengan gagasan ‘industri otak” yang dikemukakan oleh Gub GF. Betul, di tengah ketersediaan sumberdaya alam yang minus, Sumatera Barat mesti menemukan cara lain untuk bisa tetap kompetitif baik dalam lingkup nasional, regional maupun internasional. Tapi, konsepsinya harus betul-betul didudukkan dengan baik. Kalau tidak, pepatah orang tua “minyaknya habis sambalnya tak enak”, akan menjadi kenyataan. Bagi saya, ‘industri otak’ menjadi pointless manakala outcome dari pabrik itu adalah orang-orang pintar yang kelakukannya ‘mencingkahak’ (bahasa Pariaman, yang artinya buruak laku; punya orang dianggap milik pribadi, bahkan bini orang seringkali diperbininya tanpa merasa malu atau bersalah). Karenanya, secara praktis, membangun “industri otak” itu tidak cukup dengan hanya mengirim dan atau membiayai anak-anak muda pintar (atau yang dianggap pintar) untuk bersekolah ke luar negeri atau ke perguruan tinggi dalam negeri ternama saja. Melihat contoh ke yang sudah, betapa banyak orang-orang pintar negeri ini yang bersekolah atau disekolahkan di perguruan-perguruan tinggi ternama baik dalam maupun luar negeri, tapi setelah mereka pulang banyak pula diantara mereka yang menjelma menjadi tokoh-tokoh pintar yang kerjanya asyik memperkaya diri sendiri dan merusak negeri. Ukuran Hebat Dalam berbagai forum, seringkali pejabat-pejabat kita yang menyampaikan bahwa suku Minangkabau atau Sumatera Barat sudah kehilangan kehebatan mereka. Ranah Minang tidak lagi dianggap sebagai negeri bertuah karena tidak lagi ada tokoh-tokoh hebat yang lahir dari rahim bundo seperti masa lalu. Dan ukuran yang sering dipakai adalah, sedikitnya (atau bahkan tidak ada sama sekali) orang Minang yang duduk di kabinet ataupun menjadi pejabat tinggi negara lainnya. Kerisauan itu seakan menyimpulkan bahwa kita menganggap (mainstream) ranah sudah gagal total karena tidak lagi mampu menempatkan orang-orangnya di posisi-posisi strategis di tingkat nasional. Artinya, kita berhiba hati karena kita tidak bersaham dalam hiruk-pikuk nasional. Satu lagi, dalam bentuk yang berbeda, ukuran yang sering dipakai oleh para pejabat dalam menjustifikasi kegagalan kita adalah rangking nasional dalam bidang pendidikan. Para pejabat sangat galau kalau daerah yang dipimpinnya menempati nomor pincit pada rangking nasional. Sebaliknya, mereka akan menepuk dada apabila rangkinnya baik secara nasional, meskipun cara-cara aneh dan kampungan amat sering dilakukan demi mencapai “prestasi” itu. Menurut saya, kalaulah ukuran-ukuran itu yang juga akan dijadikan titik berangkat dalam membangun “industri otak”, maka saya khawatir produk yang akan lahir dari pabrik itu adalah orang-orang hebat, pintar tapi tidak bermanfaat untuk masyarakatnya. Bahkan mereka sangat potensial menjadi malin kundang yang bukan hanya sekedar tidak mengakui dan menghardik-hardik ibunya tapi lebih hebat lagi si malin kundang itu akan tega mencabuli ibunya sendiri. “Industri Orang Baik” Pada sebuah konferensi sekitar dua bulan yang lalu di Melbourne, ketika ditanya seorang penanggap perihal definisi intelektual, Professor Arief Budiman menjawab bahwa yang disebut dengan intelektual itu adalah orang berilmu yang ilmunya itu dipergunakannya untuk kemaslahatan masyarakat banyak. Bagi Professor Arief, dengan kata lain, seratuspun banyaknya titel doktor melekat pada nama seseorang, dia tidak layak dianggap sebagai intelektual kalau yang bersangkutan tidak berkontribusi positif kepada masyarakatnya. Secara ekstrim, malahan Professor Arief membuat komparasi bahwa tukang becakpun akan bisa dianggap intelektual apabila dengan ilmunya si tukang becak melakukan hal-hal yang bermanfaat untuk masyarakatnya. Bagi saya, membangun “industri orang baik” jauh lebih baik ketimbang sekedar membangun “industri otak”. Memberikan beasiswa kepada orang-orang pintar untuk bersekolah di luar negeri dan atau perguruan tinggi ternama dalam negeri adalah baik. Akan tetapi, mungkin jauh lebih baik kalau membangun “industri orang baik” dengan memulai melakukan pembenahan/penguatan pendidikan dasar. Saya bukan pakar pendidikan. Oleh karena itu, sebagai orang awam, banyak pertanyaan yang menggayuti pikiran saya yang sebagian diantaranya: Tidakkah pendidikan kita yang sedang berjalan hari ini terlalu sarat beban yang menyebabkan anak-anak kita kurang kreatif, tidak punya kepekaan sosial, logikanya dangkal dan lain-lain sebagainya? Sudahkan pendidikan kita mengajarkan anak-anak membenci perilaku-perilaku memalukan seumpama korupsi? Sudahkan sudahkah pendidikan kita berorientasi menghasilkan “orang baik”? |
Mestika Zet: Berhentilah Industri Otak
| Sabtu, 28 Juni 2008 | |
| Cara kita memandang manusia – dalam hubungannya dengan pendidikan – sering kali tercermin dari bahasa/ istilah yang digunakan. Bahasa adalah pola fikir (mind-set). Ia memberi bentuk pada ide atau konsep. Begitulah yang terjadi ketika kita mengikuti debat atau polemik para pendikiawan Sumatera Barat seputar ”industri otak” di media ini sejak minggu terakhir. Istilah ”industri otak” yang pernah dilansir oleh Emil Salim sekitar seperempat abad lalu itu kini tiba-tiba mengemuka lagi. Sekarang digelindingkan kembali oleh Shofwan Karim, sekaitan dengan ajakan Pak Gubernur Gamawan Fauzi terhadap para rektor agar ”industri otak” di daerah ini dibangkitkan kembali (Padek, 18-19/6/08). Kata ”dibangkitkan” menjadi penting, karena asumsinya Sumatera Barat dulu pernah menjadi gudang kaum cerdik pandai yang berkiprah di tingkat nasional dan internasional. Tetapi semua itu kini tinggal ”nostalgia”. Kalau Bustanuddin Agus, guru besar dari Universitas Andalas menggugah menyarankan agar istilah ”industri otak” diganti dengan ”industri SDM”, Bung Miko Kamal yang sedang belajar di Sydney, Australia, lebih suka dengan sebutan ”industri orang baik” saja (25/6/08). Masalahnya tentu bukan sekadar istilah. Ia memiliki akibat yang lebih jauh terhadap cara pandang kita terhadap pendidikan. Kedua penulis ini telah menjelaskan argumen mereka dengan baik, kendatipun keduanya tetap saja menggunakan kata ”industri” dan padanannya. Bagi saya istilah ”industri otak” bukan hanya terkesan congkak, tapi malah menyesatkan jika dikaitkan dengan pendidikan. Mengapa? Sekolah Bersinonim Pabrik. Sebagian besar masalah pendidikan kita dewasa ini, seperti yang tampak dari isu-isu ujian nasional (UN), sertifikasi guru, kurikulum baru (KBK, KTSP), privatisasi perguruan tinggi negeri (PT-BHM), ”pendidikan siap pakai”, ”produk unggulan yang harus dijual di pasar bebas” (24/6/08) dan lain-lain berakar dalam pola fikir kapitalisme yang menganggap sekolah dan perguruan tinggi sebagai pabrik. Sejak pertengahan abad ke-19, ketika sekolah gaya Barat mulai diperkenalkan oleh penjajah Belanda ke Indonesia, penguasa kolonial sering menganalogikan sekolah dengan pabrik. Metafora ini semakin kuat bersamaan dengan masuknya kapitalisme kolonial ke Indonesia awal abad ke-20 dan yang kemudian diteruskan oleh rejim pendidikan zaman Orde Baru. Sekolah tidak dimaksudkan untuk mencerdaskan siswa atau murid, apalagi untuk membangunkan kesadaran mereka akan kondisi yang ada. Pendidikan hanya sekedar untuk memenuhi kuota kebutuhan tenaga kerja di pemerintahan dan dunia industri. Jadi, kalau ada generasi cerdas dan punya kesadaran diri tentang kondisi keterjajahan di masa lalu, maka itu bukan tujuan dari sistem pendidikan kolonial itu sendiri, melainkan suatu penyimpangan dari pola umum. Terutama berkat capaian prestasi individual di luar kawalan sistem pendidikan yang ada. Begitu juga halnya, jika hari ini ada segelintir siswa sekolah kita yang meraih prestasi sampai ke olimpiade internasional, ia bukan produk sistem pendidikan nasional yang ada, melainkan berasal dari kombinasi bakat pribadi dan ikhtiar sekolahnya sendiri. Memperlakukan lembaga pendidikan sebagai pabrik atau ”industri otak” seperti yang berlaku di zaman kolonial, membawa konsekuensi logis, setidaknya, dalam dua hal. Pertama, karena metafora pendidikan diadopsi dari dunia pabrik, maka hampir semua istilah yang dipergunakan – dan dengan demikian juga pola fikir keduanya tak ada bedanya. Dewasa ini kita tanpa malu-malu mempergunakan istilah barang dan jasa pendidikan, hasil akhir, prosentase lulusan, perencanaan anggaran, akuntabilitas, kompitisi pasar, standardisasi, sertifikasi ISO, produk unggulan yang laku ”dijual” di pasar; ”pendidikan siap pakai” dan seterusnya tanpa memedulikan perbedaan apakah ini cocok untuk pendidikan kejuruan atau umum. Belum lama ini di kampus perguruan tinggi negeri di Padang muncul lagi istilah baru yang manipulatif, ”Program Reguler Mandiri” untuk mengganti istilah ”non-reguler” atau ekstensi atau pendidikan ’privat’ dalam kampus negeri. Terminologi semacam yang berwawasan pabrik inilah yang mendominasi dunia pendidikan kita hari ini. Kedua, dalam prakteknya, metafora pendidikan semacam itu juga tercermin, misalnya, dalam sistem kontrol administrasi sekolah yang makin lama makin dekat dengan apa yang layaknya berlaku dalam dunia industri. Pengelola pendidikan dalam pelbagai tingkat/ instansi, mirip dengan manejer pabrik. Ia harus menyelia karyawannya, memantau prilaku murid dan kinerja sekolah agar mutu produksi tetap up to date, sesuai dengan selera pasar. Kurikulum merupakan instrumen dalam proses produksi; apa yang tidak berguna dibuang, diubah sesuai dengan kebutuhan pasar. Pergantian kurikulum, meski inheren dalam pengelolaan pendidikan, tetapi kalau kriterianya efesiensi dan efektif dalam menghasilkan produk sebagaimana diharapkan [pasar], maka yang terjadi ialah bongkar pasang. (MESTIKA ZED) |
Dino Patti Djalal
| Sabtu, 28 Juni 2008 | |
| Jakarta, Padek-- Buku berjudul “Harus Bisa! Seni Memimpin ala SBY” yang ditulis Dino Patti Djalal, Staf Khusus Presiden bidang Hubungan Internasional/Juru Bicara Kepresidenan di-launching, di Museum Nasional, tadi malam. Terlepas dari penilaian, bahwa buku ini merupakan pencitraan bentuk lain dari figur Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, tapi yang pasti sejumlah tokoh yang didaulat menyampaikan testimoni (sambutan mengomentari buku, red) mengapresiasi positif. Buku setebal 430 halaman ini, dinggap sebagai salah satu karya anak bangsa terbaik, di tengah berjibunnya buku-buku tentang kepemimpinan yang berasal dari Eropa dan Amerika. Memang, sejauh ini kebanyakan buku-buku yang mengupas soal seni kepemimpinan jarang sekali ditulis oleh orang Indonesia. “Saya telah membaca buku ini sampai tuntas. Jarang sekali ini saya lakukan bila membaca sebuah buku. Menurut saya buku ini ditulis apa adanya,” kata Nazarudin Umar, Dirjen Bimas Islam Depag. Ia menilai, dengan terbitnya buku ini, berarti negara Indonesia dapat dikatakan sebagai yang paling demokratis. Sebab, katanya, buku ini ditulis oleh orang masih dalam lingkaran kekuasaan. “Biasanya buku-buku seperti ini ditulis, setelah penulisnya tak lagi menjabat. Seperti sering dilakukan di Amerika. Jarang sekali ada pejabat yang menulis buku tentang hal sensitif, saat ia sedang di kursi jabatan,” jelasnya. Meski begitu, Nazarudin mengaku buku ini merupakan penggambaran figur SBY dalam memimpin. Selain Nazarudin, turut memberi komentar, Ketua HIPMI Sandiaga Uno, Analis Ekonomi Lin Che Wei, Dubes Filipina untuk Indonesia, dan Kikan dari Grup Musik Cokelat. Peluncuran buku bergambar cover Presiden SBY sedang berjalan ini dihadiri pejabat negara, khususnya dari Sekretariat Negara, Departemen Luar Negeri, para Duta Besar negara sahabat, dan rekan-rekan serta keluarga Dino. Selain Menlu Hasan Wirayudha, tampak mantan Menlu Ali Alatas, Andi Malarangeng, dan Ketua Komisi I DPR Theo Sambuaga. Pemimpin Perusahaan/Wakil Penanggung Jawab Padang Ekspres Wiztian Yoetri, dan tokoh Muhammadiyah Sumbar Shofwan Karim, juga hadir memenuhi undangan putra Prof Dr Hasyim Djalal ini. Tak Suka Politik Dino mengaku sebagai orang yang tidak suka politik. Sebab, di mata Dino politik seringkali hanya digunakan untuk kepentingan pribadi dan kelompok. “Tapi hidup saya langsung berubah total pada tahun 2004 (ketika ia diangkat menjadi juru bicara kepresidenan). Saya masuk lingkaran istana,” ujar Dino. Dino menyinggung banyak hal soal kepemimpinan, dan masalah bangsa. Ia tak menampik, di dalam bukunya ia menulis banyak soal figur SBY. “Tapi yang saya tulis adalah pengalaman nyata. Sehingga kadang menyangkut hal positif dan rahasia negara. Karena itu, beberapa bagian buku ini tak bisa dicetak, karena sangat sensitif, dan rahasia negara.” Bagi Dino, seperti yang ditulisnya dalam tulisan berjudul “Pemimpin Harus Mencari Solusi” (hal141), seorang pemimpin yang baik adalah pemimpin yang memiliki policy capable: menyelesaikan masalah secara efektif, dengan elegan dan bermartabat. “Berpikir solusi, lebih baik dari seribu retorika,” ungkap Dino. Soal pemimpin ini, ia menekankan tentang lima kondisi paradoks yang mesti dihindari. Pertama, ketika dunia semakin terbuka, kita malah menutup diri. Kedua, banyak peluang dan kesempatan terbuka, kita malah dikekang rasa cemas, takut dan gamang. Ketiga, ketika nasionalis, dan internasionalis menguat, kita malah kehilangan arah, menjadi sinis terhadap bangsa lain. Keempat, ketika kita mulai menjadi panutan, kita malah ketakutan terhadap negara lain. “Terakhir ketika demokrasi makin mekar, kita malah terjebak dalam pemahaman yang dangkal, saling sikut.” Sandingkan ’45 dan 21 Dalam pandangan Dino agar bangsa ini maju, perlu penyatupaduan antara semangat ’45 dengan perkembangan abad 21. “Bila jiwa empat lima kental dengan semangat dan keberanian dan perjuangan, maka pada abad 21 kita harus paham dan mengerti dengan perkembangan,” kata Dino. Bangsa yang besar menurut Dini, bukan saja bangsa yang bisa menghargai jasa-jasa pahlawannya, tapi bangsa yang besar juga harus mampu menciptakan pemimpin. Ia sangat tidak setuju dengan yang mengatakan benci dengan globalisasi dan perkembangan. “Banyak orang bicara ‘saya nasionalis’. Kecenderungannya, siapa yang sering mengatakan paling nasionalis, maka dia sebetulnya bukan nasionalis. Itu kecenderungannya,” tandasnya. Di akhir sambutannya, ia mengharapkan munculnya para pemimpin muda, yang bisa melakukan perubahan terhadap bangsa ini. “Cuma yang perlu diingat, perubahan yang terberat adalah mengubah mindset.” (MONTOSORI & FASLI) |
Saturday, June 14, 2008
Pemuda Antar Negara

| Putra Sumbar Ikuti Pertukaran Pemuda Internasional |
| Sabtu, 14 Juni 2008 | |
| Padang, Padek-- Tiga mahasiswa asal Perguruan Tinggi di Sumbar, dipercaya mewakili Indonesia untuk mengikuti pertukaran pelajar. Mereka yakni Harry Jundrio mahasiswa Manajemen angkatan 2002 dari Unand, yang akan mengikuti pertukaran pemuda Indonesia-Australia. Kemudian, Yeng Primawati, mahasiswa asal Universitas Putra Indonesia (UPI) dijadwalkan mengikuti pertukaran pemuda Indonesia-Kanada, dan Endo Refano mahasiswa Teknik Industri Unand angkatan 2002 mengikuti program Kapal Asean-Jepang. Ketua Tim Seleksi Shofwan Karim yang juga Rektor Universitas Muhammadiyah saat bertemu Gubernur Sumbar Gamawan Fauzi di Gubernuran kemarin menyebutkan, pertukaran pelajar tersebut satu bentuk program silaturahmi dan persahabatan generasi muda antarbangsa. Untuk kegiatan kapal Asean-Jepang, nantinya akan mengunjungi 10 negara selama 10 tahun. Program ini sudah dilaksanakan sejak tahun 1978. Direncanakan kegiatan ini akan berlangsung selama 8 hari. Sedangkan pertukaran pemuda di Kanada akan dilakukan selama 8 bulan. Dimana dari Indonesia dikirimkan 20 orang. Sedangkan untuk pertukaran pemuda di Australia akan dikirimkan sebanyak 22 orang perwakilan Indonesia. “Dalam pemilihan utusan yang akan dikirim harus memenuhi berbagai kriteria mulai dari kesehatan, kemampuan berbahasa Inggris, mengetahui pengetahuan umum, lokal dan internal lainnya seperti politik dan lainnya serta bakat lainnya,” kata Shofwan.
Endo Refano, misalnya, satu dari ribuan mahasiswa yang sempat mengikuti program Kapal Asean, yang dijadwalkan akan mengunjungi seluruh negara di Asean kecuali Singapura dan Malaysia. Diperkirakan jadwal keberangkatan akan dilakukan pada bulan Oktober mendatang. “Mengikuti program ini seleksinya cukup ketat, salah satunya adalah memiliki TOEFL yang cukup tinggi,” kata mahasiswa yang juga Uda Sumbar itu. Yeng Primawati yang dijadwalkan berangkat September mendatang akan membawa berbagai misi kebudayaan yang ada di Sumbar dan Indonesia. Menurut, seleksi ketat dilakukan untuk menjaring calon-calon untuk ikut pertukaran pelajar ini internasional ini. Gubernur Sumbar Gamawan Fauzi mengingatkan agar mahasiswa yang mengikuti program itu bisa membawa harum nama Sumbar dan juga mempromosikan daerah ini sebagai satu tujuan wisata. (afi) |
Friday, June 13, 2008
Transformasi Islam
| Transformasi Islam, Budaya dan Peradaban, (Kerisauan Bersama Cucu Magek Dirih) |
| Kamis, 12 Juni 2008 | |
| Oleh : Shofwan Karim, Cendekiawan Muslim Kerisauan Cucu Magek Dirih (Cucu Magek/CM), harus diakui telah menjadi kerisauan kita bersama. Termasuk Cucu Bandaro Saga Jantan (Cucu Saga/CS). Maka berikut ini diskusi lanjutan dalam rangkaian menyambut esai CM, Selasa 3 Juni lalu: “ Transformasi Islam yang Membina Perilaku Umat (Shofwan Tidak Risau/Sudah Puas?)”. Sebelumnya, CM (Sutan Zaili Asril) menulis kegagalan subyek pembina perilaku umat. (Lihat, Padang Eskpres, “Kenapa Umara/Ulama dan Dai/Mubaligh Gagal Membina Perilaku Masyarakat?”, Minggu, 25/5. Terhadap esai itulah CS (Shofwan Karim) menulis, “Tanggung Jawab Membina Perilaku Masyarakat—Mempertimbangkan Esai Cucu Magek Dirih”, Sabtu, 31/5. Kalau tidak salah, kali ini CM menggeser pokok pembahasan dari yang semula subyek (umara/ulama, dai/muballigh) yang gagal melakukan pembinaan ummat kepada hal bawaan subyek itu, yaitu transformasi Islam. Paling tidak, gagasan itu yang ditangkap oleh CS dalam membaca diskusi 3/6 yang baru lalu. Oleh karena itu, sebaiknya ke mana irama gendang CM, ke situ pula langkah SC berayun. Singkatnya, CM menghendaki cendekiawan muslim memiliki konsep transformasi Islam yang membina perilaku umat. Mungkin yang diinginkan CM adalah konsep baru. Kalau konsep lama, rasanya seperti menuangkan garam ke laut. Khazanah “garam” intelektual CM sudah penuh dengan konsep lama itu. Katakanlah, setiap cendekiawan yang tergabung di dalam berbagai organisasi ummat di Indonesia telah memiliki konsep transformasi Islam yang sudah lama tersebut. Muhammadiyah (dulu) memiliki konsep 9 komponen matan-keyakinan hidup dan cita-cita. Sejak Muktamar 2000, konsep itu dilengkapi dengan pedoman hidup Islami warga Muhammadiyah. Nahdhatul Ulama dengan konsep ahlu sunnah wal jamaah-nya; persaudaraan (ukhuwah) imaniah, wathaniyah dan basyariah-nya. Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) dengan konsep 5 K-nya. Tidak perlu pula CS menguraikan satu persatu karena nanti CM akan menganggap menggurui. Itu hanya untuk menyebut secuil konsep yang menurut CS perlu dipertimbangkan terus-menerus dikaji, diaplikasikan dan dievaluasi. Kalau kita mau singgung Persatuan Islam (Persis), al-Jamiah-alkhairiah, al-Irsyad, Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia dan seterusnya, maka deretan konsep itu semakin panjang. Lebih dari itu, sejak dari wafatnya Rasulullah, masa sahabat dan masa kekhalifahan Bani Abbasiyah, Bani Umaiyah, Shafawi, Mughal, Ustmani, sampai berakhirnya kekhalifahan Islam dengan merdekanya negara-negara Islam di dunia sejak pertengahan abad lalu, secara global transformasi Islam tidak pernah selesai dan tidak pernah tuntas. Ketidakselesaian transformasi Islam itu, menurut hemat CS adalah sesuatu yang harus direnungkan secara dalam. Apakah Islam sudah selesai menjadi agama kebudayaan dan peradaban? Islam mungkin sudah selesai menjadi agama wahyu, menjadi agama theologi atau dimensi akidah. Tetapi ketika Islam menjadi perilaku budaya dan peradaban, maka menurut CS, transformasi Islam tidak akan pernah berhenti dan berakhir. Hal itu menjadi relevan karena kebudayaan dan peradaban manusia termasuk ummat Islam terus berkembang. Secara kasat mata, terjadi transformasi yang terus-menerus dan tidak pernah berhenti. Dimensi syariah, ambil misalnya fikih munakahat (pernikahan). Kitab fikih kita oleh beberapa kalangan diminta untuk ditinjau secara komprehensif akibat perkembangan budaya dan peradaban baru yang disebut dunia maya (virtual world/cyberworld). Masalah ijab kabul, misalnya. Kalau dulu ada pendapat pro kontra ijab-kabul via telepon, maka sekarang bagaimana dengan sistem chatting internet atau via video-call 3 G. Contoh-contoh itu akan bisa diperpanjang dengan bidang dan dimensi lainnya dalam perkembangan budaya dan peradaban mutakhir lainnya. Bagaimanapun, transformasi Islam ada yang berjalan secara terencana atau sebaliknya alamiah (untuk tidak menyebut tanpa konsep). Tergantung pemahaman dan praktik Islam oleh siapa, di mana, serta pada tingkat komunitas inetelektual, akal dan budaya pendukungnya. Misalnya soal perilaku ummat. Kalau yang kita maksud perilaku aqidah dan ibadah yang semestinya bersesuaian dengan perilaku budaya (praktik hidup), maka Al-Qur’an sudah menyebutkan secara lugas dan tegas bahwa orang yang bertaqwa itu mesti dekat kepada Allah dan selalu merasakan kehadiran Allah SWT dalam setiap tarikan nafasnya, karena Allah lebih dekat dari pada urat leher mereka sendiri. Shalat, selanjutnya, bukankah ibadah wajib ini tidak hanya gerakan fisik tetapi lebih-lebih lagi mengubah perilaku untuk tidak melakukan yang terlarang dan yang mungkar? Sebutlah Aqidah dan ibadah mahdhah dan rukun Islam yang lain, semuanya sudah tercantum di dalam kitab-kitab putih atau kuning mengenai Ushuluddin (Tauhid), Syari’ah, Fikih, Tasawuf dan seterusnya. Tiap-tiapnya ada pemikiran terdalam yang disebut dengan filsafat (hikmah) aqidah dan syari’ah-nya. Semuanya mengacu kepada konsep transformasi perubahan perilaku dari yang tercela kepada yang terpuji untuk setiap individu, kolegial dan komunal. Soalnya, siapa yang menatalaksanakan konsep itu dalam pentadbiran (manajemen) kehidupan? Di sini barangkali ada sedikit perbedaan cara pandang antara CM dan CS. Kalau CM memandang beban itu terletak pada pundak umara dan ulama. Pada pikiran CS, beban itu harus dipikul bersama oleh setiap orang dan komponen serta unsur, alias tanggung jawab kolektif, sejak dari rumah tangga sampai ke ruangan publik. Tentu ulama dan zu’ama (cendekiawan) berada dan mengemban posisi dan fungsi strategis. Keduanya sudah (relatif) dan diharapkan menjadi lokomotif, penggerak utama. CS sependapat dengan CM, sebagai transformator, umara dan ulama berada pada garis depan. Kalau umara’ menjadi mesin penggerak, maka ulama selayaknya menjadi dinamo atau aki yang merangsang mesin itu terus menerus. Tetapi perlu direnungkan bahwa kedua komponen itu tidak berarti apa-apa tanpa komponen-komponen lainnya. Di dalam transformasi Islam ini, bisa jadi kita harus mengkaji ulang tentang Islam ini. Sebelumnya kita kita sudah terlanjur mempunyai Islam “yang masing-masing”. Betapa, kadang-kadang kita berharap orang lain berbudaya dan berperadaban Islam seperti apa yang kita pikirkan, sementara pikiran dan akal itu merupakan anugerah paling berharga dari Allah SWT. Termasuk dalam manifestasinya pada kehidupan masing-masing diri, keluarga, komunitas dan seterusnya. Soalnya sekarang, ada di antara kita yang bekerja terus menerus di segmen praktis seperti guru, dosen, pedagang, wartawan, pemerintah, dan kelompok profesional yang terlanjur tidak menoleh ke kanan dan kiri. Ada di antara kita yang menganggap Islam yang kita pikirkan kita praktikkan, itulah yang paling benar. Sementara yang orang lain pikirkan dan praktikkan adalah salah. Artinya, masing-masing kita harus mentranformasi Islam dalam dirinya, budayanya dan peradabannya, termasuk CS. Islam yang rahmatan lil alamin. *** |
ICMI
Blog Archive
-
►
2007
(14)
-
►
November
(13)
- sijunjung.go.id - Home
- KOTA SOLOK - PEMKO SOLOK GELAR WORKSHOP SUSUN RPJP...
- KOTA SOLOK - PEMKO SOLOK GELAR WORKSHOP SUSUN RPJP...
- Situs Resmi Pemerintahan Kota Bukittinggi Sumatera...
- UMSB | Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat - H...
- UMSB | Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat - H...
- padangekspres.co.id - ”Sumbar Baru” dengan Asumsi/...
- [Urangawak] Sumbar Penganut Islam Garis Tengah
- Sumbar - Website Portal Sumatera Barat
- Pengumuman
- Indahnya Tawadhu'
-
►
November
(13)


