Saturday, November 24, 2007

sijunjung.go.id - Home


KOTA SOLOK - PEMKO SOLOK GELAR WORKSHOP SUSUN RPJPD 2005-2025


KOTA SOLOK - PEMKO SOLOK GELAR WORKSHOP SUSUN RPJPD 2005-2025


Situs Resmi Pemerintahan Kota Bukittinggi Sumatera Barat


UMSB | Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat - Home

UMSB Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat - Home

UMSB | Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat - Home

UMSB Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat - Home

padangekspres.co.id - ”Sumbar Baru” dengan Asumsi/Mindset Baru


[Urangawak] Sumbar Penganut Islam Garis Tengah

[Urangawak] Sumbar Penganut Islam Garis Tengah

Sumbar - Website Portal Sumatera Barat

Sumbar - Website Portal Sumatera Barat

Pengumuman

Dengan ini diumumkan kepada Dewan Penasihat, Dewan Pakar dan Majelis Pengurus Wilayah ICMI Orwil Sumbar, bahwa:
1. Muzakarah yang direncanakan Jum'at 30 November, diubah menjadi Jum'at 14 Desember 2007, Pukul 13.30, didahului makan siang bersama. Untuk konfirmasi kehadiran mohon dihubungi HP. Shofwan 08126787390, Eri 08126742725, Iwan 081363413632. Nara Sumber Dr. Ir. Busharmaidi, MS, Drs. H.Syahrial B. Syarif, MBA., Ir. Darmansyah, dengan moderator Dr. Rahmi Fahmi, MA. Topik, Berjamaah Membangun Ekonomi Kerakyatan: Perspektif Ekonomi, Industri dan Perdagangan. Ini meruapakan kegiatan pertama Divisi Ekonomi.

2. Untuk Musrenbang RPJPD Sumbar 26-27 November 2007 telah didiskusikan secara tebatas draft Tim Penyusun pada Jum'at, 23 November 2007. Beberapa catatan ICMI akan disampaikan dan diwakili oleh Drs. H. Zamhar Baheram, Wakil Sekretaris dan Ir. Darmansyah, Divisi Ekonomi.

3. Kepada Divisi-divisi yang sudah menyiapkan proposal kegiatan untuk Januari-Juni 2008, diharapkan segera menyampaikan ke sekretariat atau ke email : icmisumbar@yahoo.com,shofwan.karim@gmail.com

4. Silaknas yang semula direncanakan 7-9 Desember diubah menjadi Januari 2008 dan tanggalnya masih dikonfirmasikan lagi oleh istana RI 1, karena ICMI mengharapkan RI 1 dapat membuka dan memberikan pemikirannya dengan Tema Silaknas, Berdemokrasi untuk Kesejahteraan Rakyat.
Demikian Pengumuman ini disampaikan,
Ketua, dto. H Marlis Rahman
Sekretaris, dto. H. Shofwan Karim

Sunday, November 11, 2007

Indahnya Tawadhu'


Indahnya Tawadhu'
Kontribusi dari Masyhuri Mas'ud
Jumat, 26 Oktober 2007
Bukan sunnatullah jika seorang hamba merasa dirinya lebih baik, melihat dirinya lebih sempurna, lebih senang, lebih kaya, lebih putih, dirinya lebih dan lebih sehingga dia berpendapat bahwa dirinya betul-betul telah sempurna walaupun ternyata sarat dengan kekurangan.


Jika seseorang sudah merasa sempurna, terkadang dia lupa dengan saudaranya sesama insan yang punya perasaan sakit, senang, susah, enak, sedih seperti dirinya juga, dia hanya teringin bersama atau dipadukan dengan orang-orang yang menurutnya setaraf dengan derajat dirinya. Dia tidak ingin menerima orang-orang yang kurang sempurna atau lebih rendah derajatnya untuk dijadikan sahabat atau saudaranya, seraya memandang rendah serta remeh teradap orang-orang yang ditakdirkan hidup berkekurangan. Jika sudah demikian adanya, maka boleh dikatakan seorang yang bersikap demikian dikatakan sombong ataupun takabbur.

Kesombongan merupakan sikap yang dibenci tidak hanya dibenci oleh Allah swt dan rasul Nya saja, tetapi kesombongan merupakan satu sikap yang dibenci oleh setiap makhluk. Para malaikat, manusia, hewan, dan tumbuh-tumbuhan kalau mereka ditakdirkan dapat berbicara tentu akan mengutuk ataupun menasehati orang-orang yang sombong itu. Dan Allah swt sendiri didalam sebuah hadis telah mengancam mereka yang bersikap sombong dengan mencampakkan muka mereka kedalam neraka Jahannam karena pada hakikatnya mereka telah merampas selendang kebesaran (kesombongan) Allah swt karena kesombongan itu hanya wajar untuk dimiliki oleh yang Maha Sempurna saja, Dialah Allah swt.

Sudah banyak contoh yang disampaikan didalam al Quran akibat bersikap sombong ini, sebagai ketua kesombongan itu ialah Iblis laknatullah alaihi, Raja Namrud nabi Ibrahim as, Fir'aun nabi Musa as, Hamman nabi Musa as, Qarun nabi Musa as, Yahudi nabi Musa as, Yahudi nabi Isa as, Abu Lahab nabi Muhammad saw, Yahudi nabi Muhammad saw, Yahudi dan Nasrani akhir zaman, kaum 'Aad nabi Hud as, kaum Tsamud nabi Sholeh as, kaum Madyan nabi Syu'aib as, Inggris sudah berakhir, Perancis sudah berakhir, Jerman sudah berakhir, Uni Sovyet sudah berkahir, Amerika menghitung hari insya Allah.

Sebagaimana kita juga telah membaca cerita-cerita rakyat yang mengutuk orang-orang yang bersikap sombong. Cerita Malin Kundang dari Sumatera Barat Indonesia dikutut menjadi batu, Si Tanggang dari Malaysia dikutuk menjadi burung.

Tidak ada dari mereka yang mendapatkan kebahagiaan bahkan sebaliknya mereka mendapatkan kehancuran dan kebinasan serta kehinaan di dunia dan di akherat.

Sikap tawadhu' merupakan sikap yang indah dipandang indah pula dirasa, ia merupakan sikap fitrah manusia, fitrah itu sentiasa menyukai setiap kebaikan, tutur kata yang baik, sikap lemah lembut, kasih sayang, hormat menghormati, jujur, ikhlas dan segala perkara yang baik dalam diri seorang hamba adalah fitrah dan semua makhluk menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan diantaranya tawadhu'.

Untuk meningkatkan tendensi tawadhu' didalam diri mari kita merenung sejenak permisalan berikut:
Hendaklah setiap kita memahami dari apa kita diciptakan, untuk apa kita diciptakan, dan kemana akhir perjalanan penciptaan.
Hendaklah kita banyak-banyak mengingat kematian.
Pernahkah kita melihat bagaimana saat makanan dimasukkan kemulut bayi mungil yang belum bisa berbuat apa-apa? Tentu, saat melihat bayi makan makanan akan terbit dihati kita rasa kasih sayang, gemes dan teringin juga menyuapkan makanan kedalam mulut bayi itu seraya memeluknya.
Pernahkah kita melihat bagaimana seorang tua renta yang sudah tidak kuat berjalan dengan susah payah memasukkan makanan kedalam mulutnya dengan tangannya yang sentiasa gemetaran? Tentu, saat melihat kejadian itu ada rasa hiba dan sedih didalam hati kita kemudian terbit keinginan untuk bantu menyuapkan makanan itu kedalam mulut orang tua renta itu dengan penuh kasih sayang.
Pernahkah kita melihat mereka yang kurang bernasib baik mengais sisa-sisa makanan ditempat-tempat sampah? Tentulah kita terfikir andaikan saja saya sekarang ini jadi orang kaya.
Pernahkah kita melihat seorang pemulung yang sudah bungkuk dengan pakaian yang seadanya dan suah compang-camping mengais-ngais apa yang kira-kira dapat dijual demi sesuap nasi yang halal masuk kedalam perutnya yang sedang kelaparan gak ketulungan? Tentulah kita terfikir, andaikan saja saya dapat membantu.
Pernahkah kita melihat mereka yang kecewa karena ditolak lamaran kerjanya, manakala dia betul-betul mengharapkan pekerjaan itu demi sesuap nasi untuk anak isterinya? Tentulah kita merasa hiba.
Pernahkah kita melihat mereka yang ditolak lamaran nikahnya, padahal dia berazam dengan bersungguh hati untuk menjadi seorang yang lebih sempurna agama dan akhlaknya? Tentulah kita akan mengatakan dimanakah letak "teposelero".
Pernahkah kita melihat anak kecil menangis dengan ingusnya meleleh bercampur air matanya karena menahan lapar atau demam didalam gendongan ibuny yang kebingungan? Tentulah kita akan menanyakan ibu itu apa yang bisa dibantu.
Pernahkah kita melihat orang tua renta yang sudah kehilangan keluarga hidup dengan kebimbangan ditengah-tengah congkaknya ibukota? Tentulah kita mambayangkan bagaimana kalau itu adalah aku.
Kita tentu sudah pernah melihat semua kejadian diatas tadi, mengapa harus menjadi sombong.....?????

Maka saya dengan demkian mengatakan SELAMAT kepada anda yang hidup dalam kemiskinan, karena dengan demikian jika anda suatu saat nanti menjadi orang kaya, maka anda masih ingat derita lapar dan hinaan, dan saya ucapkan SELAMAT kepada anda yang pernah ditolak lamaran kerja dan nikahnya, karena anda nanti akan lebih bijak jika suatu saat nanti anda menjadi seorang Boss atau seorang ayah yang memiliki anak gadis, dan saya mengucapkan SELAMAT kepada anda yang memiliki anak yang sakit-sakitan, karena dengan demikian anda memahami derita orang tua tidak mampu membeli obat untuk anak-anaknya yang sakit, dan saya mengucapkan SELAMAT kepada anda yang memiliki anak-anak yang kurus kering kurang vitamin, karena jika anda berkemampuan untuk membeli susu maka tidak lupa derita mereka yang kesusahan. Dan saya ucapakn SELAMAT jika anda dapat merengungi PERMISALAN diatas dengan penuh keinsafan, karena dengan demikian insya Allah anda masih memiliki hati yang indah. Tidakkah kita mengambil pelajaran...?

Ya Allah berilah kami hati-hati yang benar dan ikhlas.


Wassalamualaikum wR wB

Masyhuri Mas'ud
Master of Quran Sunnah of IIUMalaysia
Trias Politica Zakat

Kontribusi dari Republika Online
Jumat, 02 November 2007
Erie Sudewo
Social Entrepreneur

Ada hal menarik dengan digelarnya Konferensi Zakat Asia Tenggara di Kota Padang, 31 Oktober 2007 hingga 3 November 2007. Konferensi ini merupakan lanjutan dari acara serupa yang digelar di Kuala Lumpur Mei 2006. Hal pertama yang menarik, ini tak lain merupakan pertemuan politik. Internasional lagi. Yang kedua, konferensi ini tengah membicarakan bagaimana meningkatkan profesionalisme zakat, yang ujung-ujungnya tentu untuk fakir miskin.

Ketiga yang tak kalah menariknya, Pemkot Padang jadi tuan rumah. Sementara yang lain lebih tertarik mengundang para pebisnis, Pemkot Padang malah ingin mengurus fakir miskin lebih serius. Ini sebuah terobosan politik, yang tentu tak mudah menggiringnya. Tinggal sekarang bagaimana tim di belakang layar, mampu menyiasati agar konferensi ini tak jadi liar. Harus ada sesuatu, agar pengelolaan zakat Indonesia ke depan lebih terarah.

Politik mengenal tiga ranah, yakni politik praktis, high politics, dan hidden politics. Politik yang sehat meramu ketiganya. Tujuannya demi negara. Seseorang yang sukses, jadi pahlawan negerinya. Tapi di negara lain, orang itu bisa jadi dianggap 'monster'. Itulah politik bernegara. Ketiganya tentu dikenal para praktisi partai politik di Indonesia. Namun praktiknya, politisi kita lebih suka hidden politics. Sayang hidden-nya untuk pribadi, kelompok, atau cuma untuk partainya.

Imbasnya, akhirnya juga melesat ke zakat. Bicara zakat, memang tak lepas dari politik. Sebab seperti yang sebagian ulama katakan, zakat merupakan keputusan politik paling penting dalam Islam. Kata paling penting mengacu pada tiga hal yakni zakat bukan hanya wajib, zakat merupakan satu-satunya ibadah berdimensi ganda: vertikal dan horizontal, dan zakat pun dijadikan Rukun Islam. Pertanyaannya, mengapa zakat yang jadi Rukun Islam? Mengapa bukan bank dan mengapa bukan asuransi? Bukankah zakat hanya untuk fakir miskin? Mengapa kalangan marginal ini yang harus diperhatikan? Inilah substansi 'politik' zakat yang menjungkirkan logika berpikir manusia.

Politik praktis
Untuk menjawabnya, tiga ranah politik tersebut bisa dijadikan pembedah. Ditinjau dari politik praktis, tujuan zakat memang jangka pendek. Besarnya yang cuma 2,5 persen langsung ditujukan pada fakir miskin. Karena diwajibkan, semangat zakat pun diterapkan di semua denda. Kedudukan denda jadi wajib atas segala pelanggaran. Seperti dam haji atau kafarat, pasti ditujukan untuk fakir miskin.

Kendati jangka pendek, tujuan zakat tak berhenti di pemenuhan kebutuhan semata. Ada tujuan mulia yang seperti ditegaskan Ibnu Taimiyah agar kita memenuhi kebutuhan agar mereka bisa beribadah normal seperti muzaki. Dalam ibadah, Islam memang tak memaksa. Tapi sebagai sesama Muslim, saling mengingatkan wajib hukumnya. Dan jangan pernah percaya, bahwa si miskin lebih soleh ketimbang si kaya.

Tujuan agar fakir miskin bisa ibadah normal, seperti menyiratkan ancaman bagi si kaya. Padahal itu berarti bahwa keleluasaan beribadah harus juga diberikan pada tetangganya yang tengah kesulitan. Jangan masuk surga sendirian. Dengan zakat, masukilah surga ramai-ramai.

High politics
Dikaji dari sisi high politics, pesan zakat lebih kuat ketimbang pajak. Dengan zakat, pemerintah diajari membangun bangsa. Zakat diprioritaskan khusus untuk mustahik. Kendati luas, pengertian mustahik disederhanakan sebagai kalangan mustadh'afin (tidak mampu). Pemerintah diajari untuk memperhatikan mereka.

Orang kaya memang tak harus sekaya konglomerat. Yang pasti mereka sudah mampu mengatasi persoalan dasar diri sendiri. Lihat saja perbankan dan asuransi. Bukankah itu dibuat untuk mempertahankan comfort zone mereka? Islam memang ajaran sempurna. Tentu tak adil jika Islam menetapkan bank dan asuransi jadi salah satu pilar Rukun Islam. Jika itu terjadi, maka uang akan berputar di antara orang kaya yang itu-itu juga. Dengan zakat, semangat itu diredam dan ketamakan manusia digugat.

Dalam postulat manajemen, kekuatan organisasi terletak di simpul terlemah. Dengan menemukan dan membenahi yang lemah, lembaga manapun akan jadi kuat. Dengan membenahi yang miskin, negara akan tumbuh realistis jadi kuat. Jumlah 120 juta orang miskin bukan simpul namanya. Itu ceruk kelemahan yang menganga lebar, yang siap membetot siapapun untuk jadi miskin. Yang bisa mencegah, hanya pemerintah. Karena bicara kebijakan, itu adalah ranah high politics yang jadi hak penuh pemerintah.

Hidden politics
Zakat ternyata punya sisi hidden politics. Dalam istilah lain adalah hidden agenda. Untuk yang wajib, bilangan dan waktunya jelas seperti shalat hanya lima waktu, puasa yang wajib pun hanya saat Ramadhan. Yang sunah, tak terhingga bilangannya. Islam memang luar biasa. Yang wajib, selalu sedikit jumlahnya. Zakat pun kan cuma 2,5 persen. Selebihnya yang 97,5 persen, suatu angka yang konteksnya boleh tak terhinggaini merupakan kekuatan bilangan tanpa batas ini tampak maknanya bila disingkap dari istilah zakat.

Kata lain zakat adalah sedekah. Sedekah terbagi dua, materi dan non-materi. Yang awam melihat, materi punya peran lebih. Bagi mereka, dengan berzakat 2,5 persen selesailah tugas Rukun Islam ketiga. Padahal jika dikaitkan dengan kandungan kalifah fil'ard, ternyata 2,5 persen itu tak cukup. Tiap orang akan ditanya tentang apa yang dipimpinnya. Pemimpin bukan hanya para pejabat atau direktur. Pemimpin adalah minimal dia memimpin dirinya sendiri. Membawa diri sebagai pemimpin, artinya dia harus bisa memberi kebaikan dan kenyamanan bagi lingkungannya.

Maka sebagai muzaki, Presiden SBY berzakat sebesar 2,5 persen. Sebagai presiden, apa sedekah SBY dan juga para pemimpin yang lain?. Sebagai pribadi muzaki, mereka sudah bersedekah dalam bentuk zakat. Namun sebagai pemimpin, mereka harus bersedekah dalam bentuk kebijakan. Hidden agenda zakat memang mulia. Sedekah pemimpin tak lain membangun kehidupan dan peradaban.

SILAKNAS: Artikel Lathif Hakim

MEMPERTEGAS KEMBALI; DEMOKRASI UNTUK KEMAKMURAN RAKYAT

Oleh. Dipl. DNP. Lathif Hakim, LSq. BEc.
Wacana demokrasi pada akhir-akhir ini sering dikumandangkan untuk menata ulang system pemerintahan/negara agar benar-benar terjadi reformasi total untuk kemakmuran rakyat. Walaupun istilah demokrasi sendiri mengandung berbagai penafsiran yang memicu antara pro dan kontra di kalangan cendekiawan dan negarawan. Sebagaimana seorang negarawan memahami demokrasi adalah konsep yang paling cocok untuk menata ulang system pemerintahan dengan bertujuan membebaskan system dictator dan otoriter menuju kebebasan masyarakat dalam berekspresi, berprilaku, berkumpul. Sedangkan negarawan muslim menambahkan demokrasi yang cocok bagi masyarkat muslim adalah demokrasi religius. Karena demokrasi diartikan sebagai kebebasan yang sebebas-bebasnya akibat faham dictator yang panjang sehingga menimbulkan gejolak yang melampui batas norma setelah dibuka kran demokrasi. Maka disinilah membutuhkan peranan etika yang mengatur kebebasan berekspresi masyarakat dengan sebuah perangkat undang-undang untuk memfasilitasi kebebasan itu.
Walaupun istilah demokrasi merupakan istilah yang klasik, akan tetapi hal ini masih dianggap mendekati kebenaran dalam pandangan Islam. Karena dalam Islam istilah demokrasi yang relevan dengan kondisi sekarang adalah dengan system syura (musyawarah). Kedua system ini mempunyai persamaan dan perbedaan: konsep demokrasi bersumber dari Barat melalui pencetusnya Socrates yang berasal dari kata demos dan cratos yang berarti: Dari Rakyat Oleh Rakyat dan Untuk Rakyat. Sedangkan system syura (musyawarah) berasal dari umat Islam yang diambil dari Al Qur'an (QS. Al Imran; 159, QS. Al-Baqarah; 233, QS. As-Syura; 38). Yang berbunyi: "Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarat antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka. (QS. 42:38). Dari ayat ini mengandung tiga hal dalam konsep syura: Pertama, dimensi ketuhanan, yaitu dengan mematuhi undang-undang (aturan-aturan) Tuhan dan implementasinya dimisalkan dalam bentuk sholat karena sholat adalah sebagai tiang agama dan juga merupakan jalur komunikasi langsung manusia dengan Tuhannya. Kedua, adalah dimensi kemanusiaan, yang diimplementasikan dengan system musyawarah antar manusia. Artinya, system musyawarah adalah jalan yang tepat untuk menyelesaikan semua permasalahan. Maka karena PEMILU adalah gawe semua masyarakat, maka pemilihan secara langsung dari semua lapisan masyarakat adalah sesuai dengan konsep syura, karena mereka lah yang akan merasakan dari semua kebijakan pemimpinnya. Dan konsep ini yang diambil dalam negara demokrasi. Ketiga, dimensi social manusia, hal ini tercermin dalam bentuk kerja sama, saling bantu-membantu dan takaful ijtima'I yang dimisalkan zakat, sedekah dan lain sebagainya yang bertujuan pada kemakmuran rakyat baik secara mental spiritual maupun matriil, sebagai sarana untuk beribadah kepada Allah, karena pemberi kemakmuran ini adalah Allah maka kemakmuran ini digunakan untuk beribadah kepada Allah .
Setelah kita bandingkan dalam tataran nilai yang dikandung dalam dua konsep ini maka demokrasi konvensional hanya mengadopsi nilai yang kedua dan nilai kedua ini juga tidak diambil secara penuh dengan hati nurani kemanusiaan secara utuh yang akan berujung pada demokrasi merkantilisme istilah Pak Muslimin Nasution (demokrasi dagang sapi) yang mengusung materiilisme, maka untuk memenangkan suatu permasalahan hanya dihitung dari dimensi materialisme sehingga nilai hati nurani musyawarah dan mufakat itu dimatikan oleh segelintir matrealisme tadi, inilah yang dikatakan oleh Morena Hertz dengan istilah "The Deth Of Democrasi". sedangkan dalam Islam (syura) lebih comprehensip yang mencakup tiga dimensi; nilai ketuhanan, kemanusiaan dan social kemanusiaan dalam bentuk takaful ijtima'i.
Kemudian apakah kita memakai istilah syura atau demokrasi? Dari sini boleh saja mengambil istilah syura atau demokrasi yang penting substansi tiga dimensi itu dapat diimplementasikan dalam kehidupan system demokrasi atau syura.
Dalam konteks Indonesia yang telah mengalami reformasi pada tahun 1998, maka pada waktu itu isu-isu yang yang diusung adalah tentang kebebasan karena kebebasan pada masa Orde Baru dibungkam rapat-rapat sehinnga melahirkan diktatorisme yang berkepanjangan dan hal ini juga tidak sesuai dengan Pancasila walaupun pada waktu itu mengusung Asas Tunggal Pancasila, karena "Pancasila" baik tafsir maupun implementasi dari Pancasila tidak menjiwai sila-sila yang ada dalam Sila Pancasila dan Pancasila identik dengan otoriter dan dictator. Maka secara otomatis konsep Dasar Pancasila yang sejatinya adalah sangat baik kalau ditafsirkan dengan nilai-nilai Islam akan tetapi setelah masa reformasi konsep ini kurang digemari oleh Rakyat Indonesia karena implementasi pada zaman orde baru sangat mengekang dan dictator maka menimbulkan phobia dalam masyarakat Indonesia secara luas. Maka demokrasi inilah yang tepat agar kebebasan berekpresi ini dapat dijamin dalam undang-undang, maka partai-partai pun subur dengan berbagai macam ideology dan asas dasarnya.
Maka pada kisaran tahun 1998-2009 adalah masa pembenahan dalam berdemokrasi. Dan demokrasi ini agar segera diarahkan pada rel yang benar agar tujuan reformasi ini dapat tercapai, dan jangan sampai terulang lagi seperti masa-masa orde lama dan orde baru. Maka pembenahan demokrasi yang sudah berumur 10 tahun ini, jangan sampai mengalami stagnanisasi demokrasi. Artinya harus ada pelestarian dan peningkatan demokrasi.
Maka fase peningkatan demokrasi berikutnya sesuai dengan konsep pembangunan yang berkelanjutan (sustainable development) dimulai tahun 2009-2019 adalah peningkatan demokrasi untuk kemakmuran rakyat, artinya adalah bentuk demokrasi yang bertitik tolak dari tiga substansi di atas, yaitu: dimensi ketuhanan, dimensi kemanusiaan dan dimensi keadilan social, sehingga akan terwujud kemakmuran lahiriyah dan bathiniyah.
Maka dalam mewujudkan demokrasi untuk kemakmuran rakyat yang digalakkan adalah reformasi pembangunan dalam segala bidang dan semua sektor baik reformasi pembangunan SDI, Investasi SDA, Tata Pengelola Pemerintahan dan Birokrasi dan Kemajuan Modal Sosial Masyarakat. Maka reformasi pembangunan dalam segala bidang itu didasarkan pada tiga dimensi substansi demokrasi di atas dan diimplementasikan untuk kemakmuran semua lapisan masyarakat.
Maka relevan sekali kalau system ekonomi Indonesia sekarang adalah sistem ekonomi yang berkeadilan sosial, artinya keadilan sosial yang dalam konsep dan implementasinya mengamalkan kebebasan berekonomi, pemerataan, persamaan, kemudahan dan takaful sosial. Maka nilai-nilai keadilan social ini tidak akan terwujud kalau tidak mengimplementasikan subtansi tiga dimensi demokrasi di atas.
Di sisi lain untuk mewujudkan kemakmuran rakyat yang perlu diperhatikan (1) selain konsep keadilan social, adalah (2) konsep kemandirian dan kerja sama kolektif, (3) konsep prioritas pembangunan dan pemenuhan kebutuhan primer untuk mewujudkan konsep kecukupan ekonomi rakyat dan (4) yang terakhir adalah konsep pembiayaan pembangunan yang disaranai oleh sector keuangan dan perbankan yang berdimensi syariah.
Maka dari keempat konsep di atas dalam praktek pembangunan demokrasi di Indonesia, masih berjalan setengah-setengah yang berakhir pada "Hidup segan mati pun tak mau" maka imbasnya adalah penderitaan rakyat walaupun sudah ada perbaikan disana sini. Maka perlu mempertegas kembali Pembangunan Demokrasi di Indonesia untuk memakmurkan rakyat. Artinya kemakmuran itulah yang harus diusung yaitu dengan mengimplementasikan empat konsep kebijakan di atas yang selalu berilhamkan tiga substansi demokrasi. Maka apabila empat konsep tersebut dapat diimplementasikan secara serius maka dampak yang semula penderitaan menjadi kemakmuran rakyat dengan hilangnya masyarakat dari kemiskinan dan pengangguran.
Untuk mempertegas kembali "Demokrasi Untuk Kemakmuran Rakyat" dengan mengimplementasikan empat konsep kebijakan di atas, maka mekanisme yang digulirkan adalah mereformasi system pembangunan ekonomi dengan memberdayakan semua potensi negara baik dari sisi sumber daya insaninya (SDI), memaksimalkan semua potensi SDA negara dengan investasi, Pembangunan di semua sector dan wilayah serta kemajuan asset social.
Maka karena Indonesia mempunyai kekayaan dalam SDI dan SDA, maka prioritas untuk memakmurkan rakyat ini melalui Pembangunan SDI dengan segala aspeknya dan Memberdayakan semua kekayaan SDA agar semuanya menghasilkan produktifitas dan tidak ada lahan SDA (Kekayaan bumi yang terkandung di atas dan di bawahnya) yang menganggur.
Dalam membangun sumber daya Insani yang unggul, maka aspek pertama yang harus dibangun adalah: Pertama; pada landasan Penguatan aqidah dan mental prilaku (akhlaq), Kedua; Keilmuan, Pengalaman, Ketrampilan dan Teknologi Ketiga; Penguatan Fisik melalui Gizi sehat dan Kesehatan Badan, Keempat; Kemampuan managemen yang baik dengan menghargai waktu, Kelima; Memperkuat Kesadaran Sosial dakwah individu dan masyarakat.
Contoh kongkrit dalam pesta demokrasi Indonesia dengan Pemilihan Umum yang akan diselenggarakan pada tahun 2009 yang akan menelan anggaran yang sangat besar sampai Rp. 47,9 triliun. Merupakan tindakan pemborosan keuangan negara yang harus dihitung ulang seperti yang dikatakan oleh Pak Ginanjar Kartasasmita (baca: Media Indonesia; 3 November 2007). Karena pesta demokrasi ini, peralatan dan prasarananya masih ada dan tidak perlu dibeli kembali, cukup direparasi apabila ada yang rusak, disisi lain dalam menempatkan kepanitiaan KPU, maka apabila mereka yang telah menjadi PNS maupun Aparat TNI/POLRI dari sisi biaya gajinya harus dipangkas agar tidak terjadi overlapping dalam pembiayaan karena hal ini sebagai penugasan negara dan ditambah uang lemburan sedikit itu tidak jadi maslah, hal ini dilakukan agar tidak terjadi pembengkakan dana. Maka pesta demokrasi seperti ini merupakan bentuk dari kekuatan kemampuan SDI, apabila manegemennya bagus (SDI nya bagus) tidak ada korupsi dana, korupsi data, korupsi suara. Itu adalah karena bagusnya pembangunan SDI dengan kelima aspek di atas. Jadi inti dari semua keberhasilan proyek dalam semua bentuknya adalah factor manusia dengan kemampuan dalam lima aspek di atas.
Maka manusia adalah sebagai factor pertama untuk mengubah dan mereformasi dari tertindas menjadi makmur. Dan sejatinya kemiskinan masyarakat dan individu itu karena factor manusia yang tidak memaksimalkan pembangunan dalam lima aspek manusia di atas.
Dan seandainya Rakyat Indonesia unggul dalam lima aspek di atas pasti Indonesia akan maju seperti; Jepang, Swiss dan Singapura, yang mana dengan keterbatasan SDA yang ada mereka bisa mengimpor bahan mentah diolah lagi menjadi bahan industri dan mereka ekspor dengan nilai yang lebih dan mereka bisa makmur dan maju.
Renungkan apabila kemampuan SDI Indonesia seperti mereka dengan ditopang melimpahnya SDA Indonesia yang dimiliki, kita tidak perlu mengimpor, tapi kita dapat mengolah sendiri SDA kita dan menjadikannya dari bahan mentah menjadi bahan baku kemudian dimodifikasi dengan menggunakan teknologi industri yang modern untuk menjadi barang jadi dan siap dikonsumsi sendiri di dalam negeri ataupun diekspor untuk menambahkan devisa. Dari sini, pasti kita dapat mengalahkan mereka lebih dari satu langkah. Karena kita memiliki kekayaan sendiri sedangkan mereka impor dari luar negeri.
Maka inilah yang harus dicermati Pemerintah/Negara dalam rangka menegakkan "Demokrasi Untuk Kemakmuran Rakyat", maka Pembangunan Kemanusiaan dalam lima aspeknya inilah yang harus diprioritaskan dari yang lainnya. Disamping memberdayakan semua potensi kekayaan negara agar jangan sampai ada yang menganggur dari kekayaan SDA dan Aset Negara, tidak lain dipergunakan untuk kemakmuran rakyat sebagai sarana untuk beribadah kepada Allah, Swt..

Blog Archive

About Me

My Photo
Shofwan Karim
The Time For Innovation: Ilmu amaliah, amal ilmiyah
View my complete profile