Monday, July 13, 2009



H. Basril Djabar:
Terbebas dari Rayuan Politik untuk Kekuasaan
[1]

Oleh Shofwan Karim[2]

Menulis tentang seorang tokoh “beken” tentu banyak dimensi yang saling berhimpitan . Didalam khazanah intelektual dan hati nurani, dimensi ketokohan seseorang itu sulit dijelaskan dengan kalimat dan kata. Akan tetapi kalimat dan kata adalah sarana yang tak bisa dikesampingkan ketika seorang tokoh mau dibicarakan. Seorang tokoh bukan karena ditokohkan, apalagi melalui proses formalitas dan pabrikasi birokrasi dan politik demokrasi.
Di dalam sejarah Minangkabau klasik dan modern, hampir tidak ada tokoh-tokoh besar masa lalu menjadi tokoh karena semat-mata dipilih dalam Pemilu. Mereka berjuang dengan suka dan duka, bahkan kadang-kadang dengan airmata dan pengorbanan jiwa. Sebutlah DR. H. Abdul Karim Amarrullah, DR. Abdullah Ahmad, Syekh Djamil Djambek, Syekh Sulaiman Al-Rasuli, Syekh Ibrahim Muda Parabek, H. Agus Salim, Hatta, Syahrir, Yamin, HAMKA, Natsir, Chatib Sulaiman, Bagindo Aziz Chan, Rohana Kudus, Encik Ramah Elyunusiah, Rasuna Said dan seterusnya. Ketokohan mereka bukan saja setelah mereka menjadi ulama dan pejuang Islam, menlu, wakil presiden, menteri pengajaran, ulama dan pujangga serta perdana menteri, ideolog, pejuang dan pendidik . Mereka menjadi tokoh sejak dari muda, terus beringsut ke masa dewasa, tua bahkan setelah wafat pun mereka masih mendapat legitimasi sebagai seorang tokoh. Legitimasi ketokohan, mereka sandang bukan instan tetapi dalam proses yang panjang, alami dan bertahap sehingga sampai ke puncaknya.
Dewasa ini terjadi pergeseran. Kebanyakan tokoh kita, lahir dari karbitan. Di antaranya adalah hasil modifikasi demokrasi setelah era reformasi. Mereka yang tadinya tidak “apa-apa” dan tidak “siapa-siapa”, tiba-tiba saja menjadi tokoh “popular” karena daur politik. Ada sedikit modal, ikut partai dan kalau nasib baik terpilih menjadi anggota legislatif. Atau ada sedikit modal, ikut pemilihan kepala daerah, maka jadilah ia pimpinan eksekutif. Nanti, bila selesai pengabdiannya di legislatif dan eksekutif itu, maka ia kembali menjadi orang biasa. Tidak ada buku yang ditulis, tidak ada kenangan hidup yang melekat di hati masyarakat dan tidak ada bekas ketokohan yang dikenang.
Masih syukur dan ini boleh sedikit pengecualian. Di antara mereka yang duduk menjadi tokoh sebagai hasil karbitan tadi mencoba menempa diri. Mereka yang tadi tidak pandai berpidato, karena sudah sering tampil, maka karena “belajar” sambil “bekerja” , sekarang sudah hebat. Berpidato sudah tidak lagi terikat kepada naskah atau teks yang ditulis oleh orang lain. Mereka yang pendidikannya “apa adanya”, maka dengan segala perjuangan yang keras dan liku-liku kehidupan serta disela kesibukan, mereka sekolah atau kuliah eksekutif sore dan malam, akhirnya dapat menyelesaikan pendidikan starata tertentu.
Mereka yang temasuk kategori ini, adalah tokoh yang perlu diberi apresiasi dan menerima rasa hormat. Apalagi mereka mengembangkan sayap pemikiran, koneksi dan jaringan serta selalu memperkuat tali sitaturrahim secara vertikal, ke tingkat national, dan global serta secara horizontal ke masyarakat dan ummat di wilayah ini. Kiprah mereka menjalin komunikasi dan dengan itu semakin memperkuat ketokohannya, bolehlah dianggap sebagai fenomena modern ketokohan di masyarajat yang tengah berubah ini. Mereka adaptif dengan perubahan yang positif. Mereka adalah harapan yang telah mengubah angan-angan menjadi realitas bahwa kita tetap mempunyai tokoh yang “ mumpuni’ dan boleh jadi tokoh ini suatu waktu menjadi tokoh kharismatis dan rasional. Kalaulah tidak melampaui, paling tidak mereka mampu mengiringi tokoh besar kita di masa lalu.
Berdasarkan sketsa di atas tadi, pertanyaan yang muncul tentu, bagaimana dengan tokoh kita yang satu ini, H. Basril Djabar (HBD) atau kebanyakan kita memanggilnya Uda Bas. Sebelum menjawab pertanyaan ini, penulis ingin menggambarkan terlebih dulu pengalaman bersama Uda Bas. Penulis mengenal tokoh kita ini sekitar tahun 1970-an. Waktu itu karena Mingguan Singgalang menjadi Harian Singgalang telah mendongkrak namanya di tengah masyarakat. Begitu pula lantaran kiprahnya di dunia usaha dan bisnis, menambah semarak wibawa dan kharismanya di dunia yang satu ini.
Oleh karena ingin mengembangkan kekuatan intelektualitas dan kecendekiawanan diri, lebih-lebih karena alasan kehidupan dan ekonomi, Penulis mulai mengirimkan pikiran dalam tulisan ke Koran ini. Sejak itu Penulis mulai sering bertemu, bercakap-cakap dan merasa dekat dengan keluarga besar Singgalang . Mereka di antaranya adalah Chairul Harun, Muchlis Sulin, M. Jusfik Helmi, AA Navis, Hamid Djabar, Wisran Hadi, Abrar Yusra dan seterusnya generasi sesudah Inyiak Nasrul Sidik, Nazif Basyir dan Salius St. Sati. Begitu pula generasi belakangan seperti Adi Bermasa, Darlis Syofyan, Fakhrul Rasyid HF, Indra Nara Persada, Hasril Chanigo dan seterusnya.
Apa lagi di tahun 1980-an penulis diberi kolom dua kali dalam sepekan di halaman satu, Selasa dan Jum’at di bawah tajuk “Bukan Sekedar Perintang Waktu” dan bila Ramadhan datang, menulis pada kolom” Menunggu Beduk Berbuka”. Waktu itu penulis diangkat sebagai Editor Tamu pada harian ini. Honor tulisan dari Singgalang telah berjasa membayar biaya kelahiran putri Penulis dari sebuah rumah bidan di sebuah jalan di kota ini pada tahun 1983.
Di ujung 80-an dan awal 90-an, kaena melanjutkan kuliah di Pascasarajana IAIN (sekarang UIN) Jakarta, Penulis bahkan menjadi koresponden tetap Singgalang di Jakarta. Karena itu hampir tiap minggu bertemu dengan Uda Bas di Kantor Singgalang di Jakarta bersama Kepala Perwakilan Singgalang Suparto HR. Di samping merasa dekat dengan Uda Bas, penulis menjadi lebih dekat lagi di tahun 1980-an dan 1990-an itu dengan adiknya H. Bahrum Yonda Djabar. Dengan yang terakhir ini penulis sama-sama pengurus KNPI Sumbar, AMPI bahkan belakangan GOLKAR dan dikirim menjadi utusan Pemuda Indonesia ke Sidang Umum PBB pada Youth Assembly di New York, AS tahun 1988. Belakangan penulis dan Da Yonda, duduk di DPRD Provinsi Sumbar hasil Pemilu 1992 sampai 1997. Penulis semakin merasa dekat dengan Uda Bas sejak kami sama-sama menjadi Dewan Komisaris PT Semen Padang, sejak Oktober 2005 bersama Letjen (Purn.) H. Muzani Syukur, Prof. DR. H. Elwi Danil, SH., MH dan DR. Ir. Imam Hidayat.
Pada ulang tahun Uda Bas 21 April 2008, penulis merasa tersanjung atas suatu pristiwa yang mengharukan tetapi menggembirakan. Waktu itu Uda Bas rela tidak berada di samping semua sanak keluarga dan anak-anaknya, tetapi bersedia datang ke acara promosi Doktor Penulis di Sekolah Pascasarjana Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Selesai promosi kami mensyukurinya sekaligus merayakan ulang tahun Uda Bas yang ke 65 di Wisma UIN tadi bersama sekitar 200 orang undangan dari Sumbar, Jakarta dan Yogyakarta. Sesuatu yang tak ada bandingannya bagi penulis, merayakan ulang tahun Uda Bas sekaligus selesainya pendidikan penulis yang cukup lama sekitar 16 tahun.
Kembali ke soal ketokohan dan kemimpinan terdahulu, menurut pengamatan penulis maupun berdasarkan pergaulan langsung, Uda Bas masih bertahan dengan pola lama kepemimpinan masyarakat. Secara alamiah dimulainya kepemimpinan itu di bisnis, kemudian menjalar dan simultan dengan dunia media dan secara bersamaan juga sebagai pemimpin masyarakat yang aktif di sekitar 30 organiasi profesi, yayasan, organisi social, dan kemasyarakatan di tingkat lokal dan nasional. Akan banyak pertanyaan, mengapa Uda Bas tidak mengembangkan ketokohannya ke spektrum politik. Padahal fenomena mutakhir setelah era reformasi 1998 sampai sekarang, terjun ke dunia poltik adalah menggiurkan dan amat prospektif untuk kehidupan dan mengembangkan ketokohan serta kepemimpinan.
Seingat penulis, Uda Bas sudah pernah menjadi penasihat Golongan Karya di Kota Padang di masa lalu. Sekarang di tengah puluhan organisasi social kemasyaratakan dan professional tadi Uda Bas juga Ketua Dewan Penasihat Partai GOLKAR Provinsi Sumatera Barat. Dan setahu penulis, Uda Bas tidak pernah menjadi anggota dan pengurus partai sejak muda sampai serkarang selain GOLKAR. Artinya, Uda Bas tidak pernah tergiur untuk pindah-pindah atau loncat-loncat partai. Alasannya, cukup transparan. Agaknya di antara alasan itu, Uda Bas menajadi aktivis, penasihat dan pembina partai bukanlah lantaran haus kekuasaan atau ingin memenangkan sebuah kursi politik. Pada pemahaman penulis, Uda Bas masuk partai itu seakan sama saja baginya dengan masuk ke organisasi social, masyarakat dan professional yang dia geluti yang lain tadi sejak masa mudanya sampai hari ini.
Akan tetapi sebuah budaya pluralitas politik telah dipupuk Uda Bas dalam keluarganya. Semenjak wafatnya ayahanda H. Marah Djabar dan Ibu Hj. Hafsah, Uda Bas adalah patron utama, sekaligus mungkin “role model” dalam keluarga ini. Maka adalah atas restu Uda Bas agaknya di dalam keluarga ini ada sejumlah politisi yang berhasil lolos ke kursi politik dari berbagai partai politik. Adiknya H. Bahrum Yonda Djabar, S. IP sampai sekarang duduk di kursi DPRD Sumbar melalui Partai GOLKAR. Adiknya yang lain H. Dasrul Djabar duduk di kursi DPR RI dari Partai Demokrat—konon sangat dekat dengan Presiden SBY, dan menantunya H. Fetris Oktri Hardi, SE, SH., M. Si, duduk di kursi DPRD Provinsi Sumbar dari Partai Persatuan Pembangunan. Sebuah “orchestra politict” yang harmonis agaknya hidup subur dalam keluarga ini.
Walaupun demikian untuk dirinya sendiri, Uda Bas kelihatannya tidak tertarik untuk ikut merebut kursi politik melalui Pemilu. Maka kalaupun Uda Bas menjadi Ketua Dewan Penasihat Partai GOLKAR Sumbar, agaknya itu baginya hanya suatu keikhlasan dalam mengabdi dan memberikan yang terbaik untuk ummat dan bangsa dalam arti yang lebih luas, dan dalam arti yang lebih sempit adalah untuk komunitasnya di ranah Minang ini. Dengan kata lain, Uda Bas, terbebas dari rayuan politik untuk kekuasaan. ***(shofwan.karim@gmail.com)


[1] Tulisan ini merupakan perenungan dan kenangan untuk memperingati 66 tahun Bapak H. Basril Djabar, 21 April 2009.
[2] DR. Drs. H. Shofwan Karim Elha, MA adalah dosen IAIN Imam Bonjol dan Rektor Universitas Muhammadiyah Sumatera barat (UMSB).

Sunday, November 2, 2008

Hari Ini, Syukuran Ahmad Syafii

Hari Ini, Syukuran Ahmad Syafii
Sabtu, 01 November 2008
Padang, Padek—Syukuran terhadap keberhasilan cendekiawan asal Sumbar Prof Dr Ahmad Syafii Maarif MA yang memperoleh Magsaysay Award, merupakan gagasan Gubernur Sumbar sebagai bentuk menumbuhkan motivasi rasa cinta daerah.

Diharapkan, torehan prestasi putra Sumpur Kudus Sijunjung tersebut mampu membangkitkan motivasi anak muda untuk mengharumkan nama daerah. Apalagi saat ini sudah mulai berkurang tokoh-tokoh asal Sumbar yang memberikan kontribusi nyata terhadap bangsa ini. Padahal, sejak dulu Sumbar sangat disegani etnis lain.

Dr Shofwan Karim Elha, MA mengungkapkan hal itu di sela-sela kesibukannya mempersiapkan syukuran Ramon Magsaysay Award untuk Prof Dr Ahmad Syafii Maarif MA dan silaturahmi masyarakat Sumbar, di Gedung Serba Guna PT Semen Padang, kemarin. Shofwan Karim mengatakan, sebenarnya tokoh-tokoh asal Sumbar saat ini cukup banyak berperan di berbagai bidang. Namun belum tersosialisasi dengan baik, sehingga anak muda Sumbar merasakan kehilangan panutan.

”Kita boleh lihat tokoh-tokoh energik Sumbar yang saat menjadi pimpinan di beberapa perusahan besar ternama, namun rasa bangga masyarakat itu hanya tertutup dalam hati saja tanpa peduli untuk membangkitkan semangat itu. Oleh karena itu, syukuran kali ini merupakan salah satu upaya membangun kembali rasa bangga untuk berbuat lebih baik di berbagai bidang pembangunan di negeri ini,” katanya.

Shofwan Karim dalam kesempatan itu juga menyampaikan bahwa Yayasan Magsaysay Fhilipina memberikan penghargaan tertinggi kepada tokoh-tokoh dunia untuk beberapa kategori. Salah satu adalah penganugrahan ”Hadiah Perdamaian dan Pemahaman Internasional (Peace and International Understanding)” tahun 2008, dengan seleksi ketat dan prima terpilih kepada Prof Dr H Ahmad Syafii Maarif MA putra Sumbar kelahiran Sumpur Kudus, Sijunjung, 31 Mei 1935.

”Kita patut bangga terhadap tokoh Prof Dr H Ahmad Syafii Maarif MA yang merupakan cendekiawan yang memahami falsafah sejarah dan memiliki kepedulian terhadap masyarakat miskin, berpegang terhadap kebenaran, tidak tunduk terhadap permainan politik. Juga, mengajak umat mempelajari Al Qur’an secara kaffah (menyeluruh) bukan separuh-separuh,” katanya.

Selain itu, lanjutnya, masyarakat juga layak untuk mencontoh keteladanan seorang Syafii Maarif. ”Selain rendah hati, ia juga dinilai tegas, santun, dan sederhana, serta terbuka. Kita berharap ada tokoh-tokoh yang dapat menjadi dan motivasi bagi generasi muda untuk bangkit menunjukkan kemampuannya di mana pun berada dan berbuat,” tukas Rektor UMSB Sumbar ini. (afi)

Saturday, November 1, 2008

Kerisauan Terjawab

HEADLINE NEWS
Minggu, 02 November 2008
Kerisauan Orang Minang Terjawab
Syafii Nilai Gamawan Layak Maju di Pilpres
Padang, Padek--Penghargaan Magsaysay Award 2008 yang diterima tokoh nasional asal Sumbar Ahmad Syafii Maarif menjawab kerisauan orang Minang yang cemas akan ketiadaan tokoh Sumbar yang lahir pada masa sekarang. “Bangsa asing saja bisa menghargai Buya Syafii Maarif, kenapa kita tidak. Seharusnya, sebesar apa penghargaan untuk tokoh masa lalu, sebesar itu pula penghargaan yang kita berikan kepada tokoh yang muncul belakangan. Penghargaan atau syukuran ini dengan penghargaan Magsaysay yang dianggap nobel Asia, tidak ada artinya.

Sekarang bagaimana kita membuat generasi berikutnya memiliki motivasi untuk maju” ungkap Gubernur Sumbar Gamawan Fauzi pada acara syukuran atas diraihnya penghargaan Magsaysay Award di Gedung Serba Guna PT Semen Padang, Sabtu (1/11).

Dikatakan gubernur, penghargaan yang diberikan masyarakat Sumbar kepada Buya Syafii Maarif—panggilang akrab Ahmad Syafii Maarif, sama dengan membesarkan generasi Minang berikutnya. Artinya, pemberian penghargaan tersebut akan meningkatkan motivasi generasi Minang saat ini untuk bisa berkiprah lebih baik lagi di masa datang.

Sementara itu, Buya Syafii Maarif, mengakui banyak orang Minang saat ini yang merasa kehilangan kejayaan masa lalu. Salah satunya akibat adanya Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) di Sumbar. “Sudah, biarkanlah itu berlalu. Sudah saatnya kita berubah. Selain industri otak, kita juga perlu mengembangkan industri hati untuk menciptakan manusia dengan kekayaan spiritual sebagai penyeimbang intelektual,” ajak Buya Syafii.

Pada acara syukuran itu, hadir Ketua DPRD Sumbar Leonardy Harmainy, Wakil Ketua DPRD Mahyeldi Ansharullah, Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah RB Pahlawan Kayo, Ketua ICMI Sumbar Arwan Kasri, Ketua PWI Sumbar Basril Basyar, wartawan senior Marthias Duski Pandoe dan Sutan Zaili Asril, tokoh masyarakat, alim ulama dan cadiak pandai, serta bundo kanduang. Selain itu, juga hadir Komisaris PT Semen Padang Shofwan Karim Elha dan Basril Djabar, serta Dirut PT Semen Padang Endang Irzal.

Buya Syafii Maarif meraih Magsaysay Award kategori Perdamaian dan Pemahaman Internasional, karena memiliki komitmen dan kesungguhan dalam membimbing umat Islam menyakini dan menerima toleransi dan pluralisme. Buya Syafii dinilai pantas menerima penghargaan tersebut karena kepeduliannya terhadap penderitaan kaum miskin. Atas kontribusinya tersebut, sehubungan dengan ketokohan orang Minang, ia mengacungkan jempol terhadap gebrakan untuk penyimpangan dari pola umum yang pernah dilakukan Gamawan Fauzi ketika menjabat sebagai Bupati Solok.

Ia merasa senang dengan terobosan birokratik yang memerangi budaya kumuh dalam bentuk korupsi dan praktik busuk lainnya. “Sebagai bidan KPK saat ini, saya tentu gembira dengan gebrakan berani yang telah dijalankan dalam beberapa bulan terakhir. Dengan catatan, pranata hukumlah yang harus benar dijadikan pedoman. Intervensi politik kekuasaan harus dikesampingkan agar tuduhan “tebang pilih” tidak lagi dilontarkan,” ujar Buya Syafii Maarif yang mengaku kikuk atas acara syukuran yang diberikan untuknya tersebut.

Cuma Warna Politik

Bermunculannya nama-nama seperti Sri Sultan Hamengkubuwono atau Fadel Muhammad dan sederet nama lainnya menurut putra Sumpur Kudus Kabupaten Sijunjung ini hanyalah warna politik saja. Kemungkinan siapa yang akan maju pada Pemilihan Presiden (Pilpres) mendatang menurut Buya Syafii baru akan mengerucut setelah Pemilu legislatif selesai.

“Siapapun yang memiliki keinginan untuk maju sebagai calon adalah sah-sah saja.Tentang tokoh asal Sumbar yang layak maju untuk saat ini, saya rasa gubernur yang sekarang (Gamawan Fauzi-red), juga layak untuk maju,” ungkapnya ketika dicegat Padang Ekspres jelang keberangkatannya ke Jakarta di VIP Room Bandara Internasional Minangkabau (BIM).

Terlepas dari calon-calon tersebut atau nama terakhir yang disebutnya, Buya Syafii Maarif mengatakan kelayakan tersebut tidak harus berdasarkan popularitas. Figur yang memiliki integritas, keberanian dan mau berjibaku seperti yang dimiliki Gamawan juga adalah syarat kelayakan untuk seorang pemimpin masa depan. “Walaupun sosio-filosofi politik Indonesia masih menyempitkan peluang capres dari luar Jawa untuk maju, warna politik yang ada akan memungkinkan kemunculan nama-nama diluar itu,”

Tak Percaya Diri

Terkait digunakannya gambar pendiri Muhammadiyah oleh salah satu partai politik dalam iklannya di televisi, Buya Syafii Maarif mengungkapkan ketidaksetujuannya. Menurutnya, apa yang dilakukan parpol tersebut akan memunculkan konflik di kemudian hari. “Tentang hal itu, saya merasa parpol tersebut tidak percaya diri. Apa yang mereka lakukan tersebut telah merusak filosofi politik. Hal ini malah akan merugikan parpol itu sendiri,” lanjutnya sembari menghimbau parpol tersebut untuk menarik iklan tersebut untuk diubah.

Bobrok

Bobrok, itulah cap yang pantas untuk politikus dengan pemikiran menjadikan arena politik sebagai mata pencarian. Pasalnya, jika pola pikir seperti itu terus dipelihara, Buya Syafi’i Maarif yakin bangsa ini sulit lepas dari budaya korupsi yang menggerogoti bangsa ini, sehingga terus mendapat nilai kurang. “Jika politik sudah dijadikan mata pencarian, adalah satu pertanda bangsa yang tidak beradab. Kalau itu terus berlanjut, jelas-jelas mereka berlawanan dengan pembangunan bangsa ini yang tengah perang melawan korupsi guna mewujudkan pemerintah yang bersih,” ujarnya. (*)

Buya, Isnpirasi Kaum Muda

Buya, Inspirasi Kaum Muda
Minggu, 02 November 2008
Padang, Padek--Magsaysay Award 2008 kategori Perdamaian dan Pemahaman Internasional yang diraih Prof Dr Ahmad Syafii Maarif adalah kebanggan masyarakat Sumatera Barat. Atas dasar itulah, bersama dengan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumbar, PT Semen Padang (PT SP) menggelar acara syukuran atas keberhasilan

putra kelahiran Sumpur Kudus, Kabupaten Sijunjung tersebut. Hal itu disampaikan Direktur Utama PT SP Endang Irzal dalam acara syukuran yang digelar di Gedung Serba Guna PT SP, Sabtu (31/11). Menurutnya, masyarakat Sumbar khususnya, pantas bangga dan memberikan hormat atas penghargaan yang luar biasa yang diterima Buya Syafii Maarif.

“Kebanggaan tidak hanya bagi negara, tetapi juga bagi masyarakat Sumbar. Kebanggaan tersebut memiliki makna heroik dan motivasi. Justru itu, seyogyanya kita memberikan penghargaan dan dukungan moral kepada beliau dan mensyukuri prestasi pemikiran dan karya beliau dalam kehidupan umat, bermasyarakat, berbangsa, bernegara,” ujarnya. Menurut E Irzal—yang disebut sebagai orang yang cakap oleh Buya Syafii Maarif—syukuran itu sebagai motivasi bagi warga Sumbar baik alim ulama, ilmuwan, akademisi dan cendekiawan. Secara khusus lanjut Irzal menjadi inspirasi bagi kaum muda untuk mencapai prestasi tinggi di forum nasional bahkan internasional.

“Sebenarnya kita telah memiliki tokoh-tokoh muda yang berprestasi di tingkat nasional. Mereka dengan prestasi profesionalnya memimpin di berbagai perusahaan-perusahaan terkemuka di republik ini, swasta maupun BUMN,” jelasnya. Tokoh muda Sumbar menurut E Irzal muncul tanpa diduga dan mengawali karir dari bawah tetapi masyarakat Sumbar tidak mengikuti kiprah mereka sejak awal.

Apresiasi: Gubernur Sumbar Gamawan Fauzi menyerahkan penghargaan kepada Buya Ahmad Syafii Maarif saat syukuran Magsaysay Award di Gedung Serbaguna PT Semen Padang, kemarin.

“Barangkali hal ini yang perlu di-setting lagi. Jadi sejak awal kita bisa berperan memberikan arahan dan motivasi sehingga mereka mantap menapaki karir dan prestasi serta berperan membangun Sumbar ke depan,” lanjut putra Payakumbuh ini.

Dijelaskan E Irzal yang juga dinilai Buya Syafii Maarif layak memimpin daerah, atas keberhasilannya memajukan PT SP mengharapkan prestasi buya yang memujinya dapat memacu semangat tokoh-tokoh Sumbar, terutama tokoh-tokoh muda sebagai generasi penerus. “Kita mengenal Buya Syafii Maarif sebagai tokoh yang memiliki komitmen. Untuk itu langkah dan jejak beliau pantas kita ikuti. Jadi, mari bertekad memberikan karya terbaik,” ungkapnya. Bentuk kebanggaan Sumbar lainnya, Masjid Raya yang tengah dibangun, juga didukung oleh PT SP.

Dukungan tersebut diberikan dalam bentuk suntikan dana sebesar Rp1 miliar. E Irzal mengatakan, bantuan untuk pembangunan Masjid Raya tersebut merupakan program Corporate Social Responsibility (CSR) PT SP sebagai program wajib bagi seluruh BUMN di tanah air. “Selain bantuan ini, program CSR juga kita berikan dalam bentuk pinjaman modal pada program PKBL. Bantuan ini, adalah bantuan hibah layaknya bantuan pendidikan, kesehatan dan pembangunan sarana umum di sekitar lingkungan perusahaan,” jelas E Irzal. (dy)

< Sebelumnya Selanjutnya >

Kunci Kekuatan Taliban

Oktober 31, 2008...5:40 am

Kunci Kekuatan Taliban

Lompat ke Komentar

Oleh Dina Y. Sulaeman*

dimuat di koran Singgalang edisi hari ini.

Perang melawan terorisme yang dilancarkan AS di Afganistan sudah berlangsung 7 tahun. Serangan AS pada musim gugur 2001 memang berhasil menggulingkan rezim Taliban dan disusul dengan dibentuknya pemerintahan Afganistan yang dipilih melalui pemilu. Namun, kenyataannya, Taliban secara de facto tetap tak terkalahkan. Bahkan, Brigadir Mark Carleton-Smith, Komandan Pasukan Inggris di Afganistan pada awal bulan Oktober memproklamasikan, “Kita tidak bisa mengalahkan Taliban,” (The Times, 6/10). ABC News online bahkan juga menyebut tahun 2008 sebagai tahun mematikan bagi tentara asing di Afgan. Padahal, saat ini sekitar 33.000 tentara AS tengah bercokol di negeri ini, ditambah dengan 65.000 tentara NATO yang didatangkan dari 40 negara.

Tidakkah ini menimbulkan tanda tanya besar? Sebuah pasukan yang dicitrakan primitif, berjuang di gunung-gunung batu, punya paham ekstrim kanan, ternyata tak bisa ditaklukkan oleh pasukan tercanggih dunia yang bersenjata lengkap meski perang berlangsung 7 tahun. Osama bin Laden yang disebut AS sebagai teroris nomor 1 dunia, juga tak kunjung tertangkap. Padahal, hampir seluruh pelosok Afghan konon sudah disisir. Sejak 2001, lebih dari 1000 tentara asing dan 1500 warga sipil tewas dalam operasi-operasi militer yang konon bertujuan untuk mencari Osama dan gerombolan Al Qaeda.

Sebuah buku berjudul Bin Ladden, the Forbidden Truth agaknya bisa memberi titik terang pada tanda tanya di atas. Buku karya Brisard dan Dasquie menceritakan adanya negosiasi rahasia antara Bush dengan rezim Taliban pada tahun 2001, sebelum terjadinya tragedi 11 September. Negosiasi itu intinya berisikan kesediaan AS menerima rezim Taliban dan tidak lagi menyebutnya sebagai organisasi teroris jika Taliban bekerjasama dalam proyek minyak di Asia Tengah. AS memang ingin melepaskan diri dari ketergantungan minyak pada Timur Tengah. Ladang-ladang minyak yang layak untuk dieksplorasi terletak di negara-negara Laut Kaspia dan Asia Tengah, seperti Kazakhstan, Azebaijan, dan Tajikiskan. Problemnya, minyak di kawasan itu harus melewati Rusia untuk bisa sampai ke pasar dunia dan ini bukan pilihan yang baik untuk AS. Pilihan lain, yang juga mustahil diambil AS adalah, minyak dialirkan melalui Iran, lalu menembus Teluk Persia. Pilihan terakhir dan terbaik (bagi AS) adalah membangun pipa minyak dari Turkmenistan, terus melewati Afganistan dan Pakistan, hingga sampai di Samudera India. Tak heran bila AS sedemikian bertahan menduduki Afganistan, meski korban nyawa telah sedemikian banyak.

Indikasi lain adanya bisnis minyak di balik serangan AS ke Afganistan adalah bahwa hingga kini, AS tidak pernah mencatatkan Afganistan sebagai negara sponsor terorisme. Padahal, sudah jelas Taleban dan Bin Laden bermarkas dan merajalela di Afganistan. Di saat yang sama, AS memasukkan nama Iran, Suriah, Korea Utara sebagai negara pendukung terorisme tanpa alasan yang masuk akal. Tentu saja, seandainya Afganistan dikategorikan sebagai negara sponsor terorisme, akan mencoreng citra AS jika menanamkan modal bisnis minyak di sana. Fakta aneh lain yang terungkap adalah bahwa sesungguhnya keluarga Bin Laden dan Bush punya hubungan erat di bidang bisnis.

Ada beberapa prediksi terkait hasil negosiasi Bush-Taliban pra Tragedi 11 September itu. Sebagian sumber menyebutkan bahwa Taliban menolak bekerja sama dengan AS. Ada pula sumber lain yang menilai bahwa negosiasi itu membuktikan bahwa invasi AS ke Afgan sudah dipersiapkan jauh sebelum terjadinya 11/9. Namun, yang jelas, tragedi terorisme canggih ala 11/9 itu (yang anehnya, tidak mampu terdeteksi oleh agen FBI dan CIA yang selama ini dicitrakan sangat hebat), memberi alibi kuat bagi AS untuk melancarkan serangan ke Afghanistan dan Irak. Hanya dalam waktu 3 minggu, rezim Taleban bisa digulingkan.

Taliban Ternyata Didirikan CIA

Kini, mari kita melihat fakta di balik pendirian Taliban. Data menyebutkan bahwa antara tahun 1978 dan 1992, pemerintah AS mengucurkan minimalnya 6 juta US Dollar (sebagian bahkan menyebut angka $20 juta) untuk membeli senjata, melatih, dan mendanai pendirian sebuah kelompok jihad Afganistan demi mengusir Soviet dari Afganistan. Perlu diingat, saat itu tengah berkecamuk Perang Dingin AS-Soviet dan AS menggunakan segala cara untuk menghalangi meluasnya pengaruh Soviet di dunia.

Upaya itu juga didukung oleh Arab Saudi dan Pakistan, termasuk dinasti Bin Laden yang menyumbang dana jutaan dollar. Kelompok itu kemudian disebut Taleban, berasal dari kata Taleb atau pelajar, karena merekrut para pelajar Islam di Pakistan dan berbagai negara muslim. Ahmed Rashid, koresponden untuk Far Eastern Economic Review, menulis bahwa pada tahun 1986, Direktur CIA William Casey mengakui bantuan CIA kepada ISI (badan intelijen Pakistan) untuk merekrut pasukan jihad. Minimalnya 100,000 militas Islam berdatangan ke Pakistan antara tahun 1982 and 1992 (60.000 di antaranya pelajar Islam di Pakistan).

Perekrutan, penggalangan dana, dan penyediaan peralatan untuk Taleban disalurkan oleh organisasi Maktab al Khidamar (MAK) dan Osama Bin Laden adalah salah satu dari tiga pimpinan MAK. Pada tahun 1989, Bin Laden menguasai MAK sepenuhnya. Osama bin Laden, anak dari milyarder Arab Saudi, datang ke Afghanistan tahun 1980 untuk bergabung dalam gerakan jihad yang disponsori CIA itu. Dia bertugas merektrut, mendanai, dan melatih 35.000 sukarelawan non-Afghan yang bergabung dengan Taliban. Milt Bearden, Deputy CIA di Pakistan 1986-1989, mengakui, atas sepengetahuan CIA, Bin Laden membawa 20-25 juta dollar per bulan untuk membiayai perang (New Yorker, 24/1/2000). Bin Laden kemudian mendirikan organisasi Al Qaeda pada tahun 1987 yang menjadi pelaksana kamp-kamp pelatihan militan dan berbagai bisnis (perdagangan) di Afganistan.
Bulan madu Taleban-Al Qaeda-Bin Laden berakhir setelah Tragedi 11 September 2001. Segera setelah pengeboman menara WTC di New York yang menewaskan 5000-an orang itu, pemerintahan Bush menuduh Al Qaeda lah pelakunya dan segera setelah itu, melancarkan serangan ke Irak dan Afganistan tanpa izin PBB.

Lalu, kembali ke pertanyaan, mengapa Taliban dan Bin Laden tetap tak terkalahkan hingga kini? Jawabannya sangat sederhana: Taliban adalah kunci bagi AS untuk terus bercokol di Afganistan. Bila Taleban kalah dan Afganistan aman, sulit bagi AS untuk memaksakan kehendaknya (dan proyek-proyeknya) di negeri itu. Pembentukan pemerintahan dan UUD Afganistan segera setelah rezim Taleban digulingkan menunjukkan bahwa rakyat Afganistan memilih bentuk negara Islam. Bila dibiarkan begitu saja, Afganistan akan sangat mudah bersekutu dengan Iran (kedua negara memiliki sejarah historis yang hampir sama, bahkan keduanya dulu pernah tergabung dalam satu negara, dengan bahasa yang sama). Itulah sebabnya, AS tak pernah membiarkan bangsa Afgan mengatur sendiri negaranya. AS terus bercokol di sana, menghancurkan berbagai infrastruktur dan membunuh warga sipil dengan alasan, untuk menumpas Taleban. Dan itulah kunci kekuatan Taleban: AS memang masih membutuhkan keberadaannya.

*pemerhati kajian Timur Tengah, penulis buku Ahmadinejad on Palestine

Maarif_Telinga ke Bumi

MENYIKAPI KEMISKINAN DI INDONESIA

Syafii Maarif : Para Elit Harus Memasang Telinga Ke Bumi

Sabtu, 01/11/2008 20:50 WIB


klik untuk melihat foto
Syafii Maarif (foto : romi)

padangmedia.com - PADANG – Menyikapi kondisi kemiskinan di Indonesia, menurut Syafii Maarif perlu mendorong kesadaran para elit dalam hal kemiskinan itu. Kesadaran itu perlu ditingkatkan dan ditumbuhkan terus menerus.

“Tingkat kemiskinan di Indonesia mencapai 100 juta dari 225 juta penduduk Indonesia. Hal ini sangat mengkhawatirkan dan memalukan. Perlu kesadaran. Kita meminta politisi dari tingkat terbawah di kabupaten sampai ke tingkat atas. Mereka mesti memasang telinganya ke bumi. Apakah sebetulnya yang diinginkan oleh rakyat, apa yang dibicarakan apa yang dialami dan dibutuhkan oleh mereka,” ungkap Syafii Maarif kepada padangmedia.com, Sabtu (1/11) di Gubernuran Padang usai syukuran yang dilakukan pemprov Sumbar di Gedung Serba Guna Indarung Padang.

Ditambahkan Syafii, wakil rakyat itu seharusnya mempertajam pendengarannya terhadap masyarakat bawah. Jika sebelumnya, saat kampanye, mereka begitu, tapi setelah diatas mereka lupa, lupa daratan. “Merekaperlu disadarkan disadarkan bahwa hidup ini pendek. Dalam hidup yang singkat itu mereka harus berbuat sesuatu yang baik,” katanya.

Menyangkut Ramon Magsaysay tokoh yang namanya diabadikan untuk penghargaan dari Filipinan itu, menurut Syafii adalah sosok yang pantas diteladani. Ia bergerak sampai ke akar rumput. “Saya rasa belum ada tokoh seperti diadi Indonesia. Dan itu harus dimunculkan. Sosok Ramon Magsaysay harus dikenal dan dipopulerkan di kalangan pemimpin kita. Biografi tentangnya harus dibaca oleh para pemimpin kita di Indonesia,” ulasnya. (nit)

Dalam Sejarah, Baru Sekarang Orang Minang dapat Magsaysasy

Dalam Sejarah, Baru Sekarang Orang Minang dapat Magsasysay

Sabtu, 01/11/2008 21:51 WIB


padangmedia.com - PADANG – Kita tidak boleh hanya jujur menilai orang tapi juga harus jujur menilai diri kita. Kita tidak boleh terjebak pada romantisme masa lalu saja. Katakanlah tokoh kita dulu hebat-hebat, padahal tokoh kita sekarang banyak juga yang hebat.

“Kita memuji Pak Azwar, saat produksi PT Semen Padang mencapai 600 ribu ton. Saat Pak Endang sekarang produksi semen kita sudah 6 juta ton, kita tidak memuji. Itu artinya apa. Kita hanya objektif mengatakan orang lain tapi kita tidak objektif untuk diri kita sendiri,” ungkap Gamawan Fauzi Gubernur Sumbar kepada padangmedia.com, Sabtu (1/11) di Gubernuran Padang, usai acara syukuran Syafii Maarif atas penghargaan Ramon Magsaysay di Gedung Serbaguna Semen Padang..

Ditambahkan Gamawan, tanpa mengurangi penghargaan terhadap tokoh-tokoh masa lalu kita juga harus adil pada masa kini dengan memberikan penghargaan. Menurut Gamawan, banyak tokoh-tokoh kita pada masa kini yang hebat. Salah satunya adalah Syafii Maarif yang mendapat penghargaan dari dunia internasional. “Dalam sejarah Minangkabau, ini baru sekarang orang Minang dapat Magsaysay. Dalam bidang ini Cuma ada dua orang Indonesia yang mendapat penghargaan ini Itu artinya apa. Prestasi itu tidak sesederhana yang kita bayangkan. Banyak orang Minang yang hebat sekarang seperti juga dimasa lalu,” jelasnya.

Dengan adanya syukuran ini, sebut Gamawan, adalah hal yang pantas sebagai apresiasi warga Sumbar pada pak Syafii Maarif. Selain itu juga adalah ungkapan syukur disaat banyak orang pesimis dengan munculnya tokoh Minang pada masa kini. Hal ini adalah motivasi bagi masyarakat Minang bagi masa datang.

“Untuk itu kita terus mendorong mereka yang berprestai dengan memberikan penghargaan. Kita tidak hanya memberikan punish, tetai juga memberikan reward yang lebih banyak. Karena sebenarnya sukses itu juga diukur dengan penghargaan yang sudah kita berikan,” katanya.

Selain Syafii, kata Gamawan masih banyak tokoh kita di tingkat nasional yang hebat. Miwsalnya di BUMN ada Emirsyah Sattar, ada Djoni, Rinaldi.. Belum lagi di departemen, dirjen, tingkat direktur, banyak orang Minang. Mereka karena sudah sangat professional, sebagian mereka ada yang melupakan kultur ini mereka sudah menjadi bagian masyarakat dunia. Sebaliknya ada yang sangat kental kepeduliannya.

“Mereka yang hebat itu bermacam-macam. Ada yang berkontribusi melalui pikiran, saran pendapat atau tenaga.Adauga dalam bentuk uang, fasilitas, macam-macam tergantung bagaimana mereka mengabdi pada daerahnya,” ulasnya. (nit)


Blog Archive

About Me

My Photo
Shofwan Karim
The Time For Innovation: Ilmu amaliah, amal ilmiyah
View my complete profile